Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 26/01/2017, 15:52 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani


KOMPAS.com – Kerusakan bumi kian berdampak terhadap penghuninya, termasuk manusia. Udara makin kotor, air bersih lebih sulit didapat, belum lagi cuaca tambah tak menentu.

Beberapa film Hollywood bahkan pernah menggambarkan bumi yang sedang “sekarat”. Dalam film Interstellar, misalnya, tanah digambarkan tak mampu lagi memproduksi pangan selain jagung. Hujan pun dikatakan hanya turun satu-dua kali selama setahun.

Makin memprihatinkan, di situ tergambar debu berterbangan di mana-mana mengotori rumah dan paru-paru. Udara bersih sulit didapat. Bumi di ambang kehancuran. Neraka pun berasa mendadak pindah ke Bumi.

Dalam versi nyata, cuaca memang kian ekstrem. Kemarau menjadi sangat panas sampai membuat beberapa wilayah di Indonesia gagal panen pada 2016. Di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, contohnya, ratusan petani jagung gagal memanen hasil kebunnya.

(Baca: Gagal Panen, Ratusan Petani Jagung di Karo Merana)

Nyata juga, suhu bumi semakin panas. Dalam tiga bulan pertama pada 2016, suhu rata-rata bumi naik 1,15 derajat Celsius. Angka ini lebih tinggi 0,28 derajat Celsius dibanding catatan tahun sebelumnya.

Jika dibiarkan, tak cuma panen gagal, kenaikan suhu bahkan ditengarai bisa berdampak pada pencairan es di Antartika. Penelitian Penn State University pada 2016 mendapati proyeksi kenaikan muka laut global mencapai 1,14 meter pada 2100.

NASA Gambaran suhu harian Indonesia dengan skenario emisi tinggi berdasarkan prediksi NASA.

Bila hal itu sampai terjadi, pulau-pulau kecil dan daerah pesisir Indonesia bisa tenggelam. Bersamaan, di beberapa kota besar seperti Jakarta dan Semarang, kenaikan air laut juga diperparah dengan penyedotan air tanah dan beban bangunan yang kian padat. Penurunan muka tanah pun tak bisa dihindari.

"Kenaikan muka air laut tiap tahun lebih cepat dengan suhu terus menghangat," ujar Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dodo Gunawan, seperti dikutip harian Kompas edisi Jumat (1/4/2016).

Ia mengatakan, secara umum negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, akan mengalami kenaikan muka air laut sekitar 40 sampai 60 sentimeter sampai akhir abad ini.

Namun, prediksi tersebut bisa jadi meleset—semakin buruk—jika masyarakat dunia berpangku tangan terhadap laju emisi gas rumah kaca (GRK), penyebab kenaikan suhu bumi. Kenaikan muka air laut bisa jadi dua kali lipat lebih tinggi.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+