DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum
Dokter

Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku.

Politik Sepiring Nasi Jagung, Ikan kembung dan Lalap Sambel

Kompas.com - 25/01/2017, 07:25 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Setiap tahun, Hari Gizi diperingati dengan cirinya masing-masing. Yang pasti, tak luput dari semua situasi dan kondisi yang merupakan cermin status gizi saat itu.

Pesatnya jalur informasi, teknologi dan transportasi misalnya, sebagai pendongkrak pangan industri yang seakan menjadi ‘jagoan’ penyelamat publik yang tunggang langgang mengatakan tak punya waktu untuk memasak.

Status gizi yang muncul akhirnya amat tipikal dengan gaya hidup. Termasuk penyakitnya. Pemahaman setengah-setengah atau hanya mengobati sebatas keluhan yang muncul, bukan hanya membuat masalah sebenarnya tak terselesaikan, tapi juga menorehkan paradigma ngawur tentang layanan kesehatan.

Dalam konteks gizi, begitu kita berada dalam deretan tertinggal (apalagi tersasarkan), untuk mengejar kembali ke jalur semestinya bukanlah semudah membalikkan telapak tangan.

Kepanikan tampak nyata saat segala cara ditempuh – bahkan pelbagai upaya yang validitas dan efektivitasnya belum terbukti, atau sudah terlalu usang, atau malah berisiko menimbulkan ekses yang tak terpikirkan sebelumnya.

Seorang anak dengan gizi buruk misalnya, kontributor ketinggalan tinggi dan berat badan tidak semata-mata akibat kurang asupan kalori protein.

Infeksi samar dan tersembunyi menahun jika tak tertangani secara sinergis, membuat apa pun yang masuk ke tubuhnya menjadi hal yang sia-sia.

Sebutlah asupan tinggi mineral dan pelbagai vitamin termasuk zat besi. Alih-alih mendorong pertumbuhan, justru status anemia menjadi kian parah dengan adanya parasit cacing usus yang belum diberantas.

Suplementasi zat besi yang menjadi “ilmu radikal pengentasan anemia” sejak jaman Belanda rupanya butuh de-radikalisasi dengan merujuk pada penelitian terbaru berbasis bukti, bukan ‘kepercayaan’.

Apalagi jika ternyata anemianya bukan akibat kekurangan zat besi, melainkan karena sebab lain! Sudah sejak beberapa tahun yang lalu, lembaga kesehatan dunia WHO dan UNICEF menganjurkan diversifikasi pangan lokal dengan fokus pada sumber zat gizi yang ada di lauk sehari-hari sebagai cara pengentasan yang terbaik.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.