Kompas.com - 24/01/2017, 21:43 WIB
Tampilan Synthetic Visual dalam sistem instrumen Garmin G1000 yang dipakai N219, menampilkan pegunungan di sebelah barat bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat. Reska K. Nistanto/KOMPAS.comTampilan Synthetic Visual dalam sistem instrumen Garmin G1000 yang dipakai N219, menampilkan pegunungan di sebelah barat bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com -  Jika tak ada kendala, pesawat N219 akan terbang perdana akhir Maret dan bisa diproduksi pada 2018. Produksi pesawat buatan perekayasa Indonesia itu diharapkan menggerakkan ekonomi, menghidupi industri pendukung, dan menumbuhkan kewirausahaan berbasis teknologi. Namun, itu butuh keberpihakan penuh dari pemerintah.

Tren global industri pesawat terbang, termasuk Airbus dan Boeing, ialah menyubkontrakkan sebagian pekerjaannya ke industri pendukung di seluruh dunia. Model itu bisa diterapkan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) saat memproduksi pesawat N219.

”Itu konsep berbagi risiko agar perusahaan tak kelebihan beban, pekerjaan berkembang, dan jumlah tenaga kerja bisa dikelola,” kata Ketua Pusat Kerekayasaan Aeronautika Indonesia (Indonesian Aeronautical Engineering Center/IAEC) Hari Tjahjono, di Jakarta, Senin (23/1/2017).

Wakil Ketua Asosiasi Industri Pesawat Terbang dan Komponen Pesawat Terbang Indonesia (Indonesia Aircraft and Component Manufacturer Association/Inacom) Adi Sasongko berpendapat senada. Hal itu bergantung pada PT DI dengan struktur organisasi besar dan biasa menggarap semua hal mandiri.

Pekerjaan pembuatan pesawat yang bisa disubkontrakkan ke industri pendukung umumnya bukan bagian inti pesawat yang bisa memengaruhi langsung performa pesawat. Pekerjaan itu terentang mulai dari perancangan atau desain pengembangan pesawat sampai produksi sejumlah komponen.

Menurut Hari, anggota IAEC, terdiri dari 26 industri kecil menengah dan 200 perekayasa dirgantara di Indonesia dan luar negeri, bisa diberdayakan untuk pengembangan N219 berbagai versi, seperti untuk pengawasan maritim atau jadi pesawat kombi. Itu butuh penghitungan ulang oleh perekayasa di luar PT DI agar PT DI fokus mengembangkan generasi pesawat baru.

”Industri kecil menengah teknologi dirgantara ini tumbuh subur di India dan Singapura,” ujarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pembuatan komponen pesawat yang bisa diserahkan ke industri pendukung umumnya tak menyangkut keamanan dan keselamatan pesawat. Contohnya sistem pencahayaan panel ataupun sebagian sistem elektronik pesawat.

”Namun, pembuatan sistem elektronik pesawat oleh industri pendukung rumit karena harus ada sertifikasi ketat,” kata Adi. Proses sertifikasi membuat sebagian industri pendukung belum siap menjadi penopang PT DI.

Direktur Teknik dan Pengembangan PT DI yang juga Ketua Inacom Andi Alisjahbana mengatakan, pelibatan anggota Inacom untuk memasok sebagian komponen, perkakas (tool), dan alat pengarah (jig) sedang berjalan.

Jika pemerintah ingin pembangunan teknologi tinggi yang memberikan multimanfaat ekonomi bagi masyarakat dan menumbuhkan kewirausahaan, perlu pelibatan industri kecil menengah pendukung. ”Itu tak bisa instan, harus disiapkan matang dalam peta jalan jelas,” ucapnya. (MZW)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke dalam Tubuh Sampai Merusak Organ

Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke dalam Tubuh Sampai Merusak Organ

Oh Begitu
Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Oh Begitu
4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

Oh Begitu
Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Oh Begitu
Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Oh Begitu
Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Oh Begitu
Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Fenomena
Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Oh Begitu
70 Persen Penyintas Covid-19 Alami Gejala Long Covid

70 Persen Penyintas Covid-19 Alami Gejala Long Covid

Oh Begitu
Sisa Fosil Triceratops Terbesar Si Big John Dibeli Kolektor

Sisa Fosil Triceratops Terbesar Si Big John Dibeli Kolektor

Fenomena
Epidemiolog: Delta Plus di Inggris Bisa Gantikan Dominasi Varian Delta

Epidemiolog: Delta Plus di Inggris Bisa Gantikan Dominasi Varian Delta

Oh Begitu
Ahli Sebut Terobosan Baru Akan Membantu Kita Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Ahli Sebut Terobosan Baru Akan Membantu Kita Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Oh Begitu
Zat Berbahaya di Dalam Rokok Penyebab Kanker Paru-Paru

Zat Berbahaya di Dalam Rokok Penyebab Kanker Paru-Paru

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.