Kompas.com - 24/01/2017, 13:48 WIB
Hasil survei Litbang Kompas terkait seberapa sering responden mengakses media sosial. Metode survei dilakukan dengan tatap muka yang diselenggarakan Litbang Kompas pada 14-22 Desember 2015. Sebanyak 1.414 responden warga Jakarta berusia minimal 13 tahun yang dipilih secara acak menggunakan pencuplikan sistematis. Tingkat kepercayaan 95 persen, dengan margin off error penelitian kurang lebih 2,6 persen. Harian KompasHasil survei Litbang Kompas terkait seberapa sering responden mengakses media sosial. Metode survei dilakukan dengan tatap muka yang diselenggarakan Litbang Kompas pada 14-22 Desember 2015. Sebanyak 1.414 responden warga Jakarta berusia minimal 13 tahun yang dipilih secara acak menggunakan pencuplikan sistematis. Tingkat kepercayaan 95 persen, dengan margin off error penelitian kurang lebih 2,6 persen.
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Kecanduan media sosial itu terbukti sudah terprogram di gen. Penelitian dari Inggris menemukannya.

Para ilmuwan dari King's College London membandingkan kebiasaan berinternet sekitar 4.250 kembar identik dengan sekitar 4.250 kembar bukan identik. Para peneliti itu menemukan gen yang bertanggung jawab atas 39 persen waktu yang dihabiskan untuk berselancar di dunia maya.

Para ahli mengklaim hal ini menunjukkan media bukan hanya entitas eksternal yang menjerat konsumen "tak berdaya". Orang-orang tertentu secara alami memang rentan kecanduan media sosial.

"Komponen kunci korelasi gen-lingkungan adalah pilihan," kata Profesor Robert Plomin, peneliti senior dari IoPPN di King's College London.

"Orang-orang seperti itu bukan hanya penerima pasif terhadap lingkungannya, tetapi secara aktif memilih pengalaman dan pemilihan-pemilihan ini terkorelasi dengan kecenderungan genetik," tambahnya.

Penelitian ini merupakan yang pertama menemukan hubungan solid antara kebiasaan media sosial dan gen yang berdasar data 8.500 kembar usia 16 tahun dari Twins Early Development Study di Inggris.

Mereka secara sengaja membandingkan kembar identik (yang berbagi 100 persen gen) dan non identik (berbagi 50 persen gen). Dengan begitu, peneliti mampu mengestimasi kontribusi relatif gen dan lingkungan terhadap perbedaan individual dalam keterlibatan di media daring.

Keterlibatan itu meliputi games untuk hiburan dan pendidikan. Juga waktu yang dihabiskan di chat room, aneka platform pesan instan dan Facebook.

Banyaknya waktu yang dihabiskan di semua media dapat dikaitkan dengan heritabilitas atau tingkat di mana perbedaan antar anak dapat dihubungkan dengan faktor-faktor genetik keturunan daripada efek lingkungan.

Untuk jejaring sosial, mereka menemukan gen menyumbang 24 persen waktu yang dihabiskan online.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Daily Mail
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.