Kompas.com - 08/01/2017, 10:05 WIB
EditorBestari Kumala Dewi

KOPAS.com - Meditasi adalah praktik umum yang diyakini dapat membantu mengurangi kecemasan dan stres, serta meningkatkan kesejahteraan emosional. Tapi, apa yang terjadi pada otak selama meditasi? Apakah teknik yang berbeda memiliki efek yang berbeda? Penelitian ilmiah telah menemukan jawabannya.

Ada banyak metode meditasi; mindfulness, mantra, dan meditasi yang dipandu instruktur. Namun menurut para peneliti studi, termasuk Svend Davanger, seorang ilmuwan saraf di University of Oslo di Norwegia, semua teknik itu dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari dua kelompok meditasi yaitu konsentratif dan nondirective.

Para peneliti mendefinisikan meditasi konsentratif sebagai teknik yang berfokus pada pernapasan atau pemikiran tertentu, yang pada gilirannya, memblokir pikiran lain.

Meditasi Nondirective digambarkan sebagai metode yang berfokus pada pernapasan atau pada suara meditasi. Tapi selama latihan ini, pikiran dapat mengembara. Tim mencatat bahwa beberapa teknik meditasi modern cenderung untuk masuk ke dalam kategori ini.

Untuk studi mereka, baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Human Neuroscience, para peneliti mengevaluasi 14 peserta yang sangat berpengalaman dalam meditasi Acem (teknik meditasi yang termasuk dalam meditasi nondirective) namun mereka juga terbiasa melakukan meditasi konsentratif.

Semua peserta menjalani magnetic resonance imaging (MRI) saat mereka beristirahat. Kemudian sebagain peserta diminta melakukan teknik meditasi nondirective dan sebagain lagi melakukan teknik meditasi konsentratif.

Para ilmuwan menemukan bahwa ketika peserta berlatih meditasi nondirective, mereka memiliki aktivitas otak yang lebih tinggi di daerah yang terkait dengan pengolahan pikiran dan perasaan daripada ketika mereka sedang beristirahat. Tapi ketika subjek berlatih meditasi konsentratif, aktivitas otak mereka terlihat sangat rileks, hampir sama seperti ketika mereka beristirahat.

Menurut Davanger, temuan ini menunjukkan bahwa meditasi nondirective "menyediakan lebih banyak ruang di dalam otak untuk memroses kenangan dan emosi daripada selama mediasi terkonsentrasi."

Namun dia juga menambahkan, "Otak memiliki aktivitas tertinggi ketika kita beristirahat. Ini merupakan semacam sistem operasi dasar, jaringan yang istirahat mengambil alih peran ketika tugas eksternal tidak memerlukan perhatian kita."

Meditasi menjadi populer di seluruh dunia bersamaan dengan semakin populernya latihan yoga. Selain bisa mengurangi kadar stres dan meningkatkan kesejahteraan mental, meditasi - terutama meditasi konsentratif terbukti mampu meningkatkan suasana hati dan kualitas tidur para pasien kanker. Demikian temuan dari University of Montreal di Kanada.

Anda pun bisa mendapat manfaat itu dengan rajin berlatih meditasi setiap hari. Banyak orang percaya, waktu terbaik untuk melakukan meditasi adalah di waktu subuh.

Namun, jika Anda tak bisa bangun sepagi itu, lakukanlah meditasi kapanpun di waktu yang menurut Anda paling nyaman. Manfaatnya tidak akan berkurang selama teknik yang Anda lakukan benar.

Pelajari teknik meditasi dari instruktur terpercaya di pusat kebugaran terdekat dan perdalam ilmu Anda lewat buku atau media lain yang terpercaya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rangkuman Gempa Signifikan Sepekan Terakhir, Apa Saja?

Rangkuman Gempa Signifikan Sepekan Terakhir, Apa Saja?

Fenomena
BPOM: Pfizer dan AstraZeneca Sudah Bisa untuk Booster Vaksin Covid-19 Jenis Lain

BPOM: Pfizer dan AstraZeneca Sudah Bisa untuk Booster Vaksin Covid-19 Jenis Lain

Oh Begitu
Cuaca di Indonesia: Potensi Curah Hujan pada 19-24 Januari 2022

Cuaca di Indonesia: Potensi Curah Hujan pada 19-24 Januari 2022

Fenomena
Gempa Megathrust Selat Sunda Bisa Memicu Gelombang Tsunami, Ini Saran Mitigasi Menurut Ahli

Gempa Megathrust Selat Sunda Bisa Memicu Gelombang Tsunami, Ini Saran Mitigasi Menurut Ahli

Fenomena
Penjelasan Ilmiah Mengapa Gempa Dapat Mengakibatkan Tsunami

Penjelasan Ilmiah Mengapa Gempa Dapat Mengakibatkan Tsunami

Fenomena
Gempa Bumi: Penyebab, Jenis, Karakteristik, hingga Dampaknya

Gempa Bumi: Penyebab, Jenis, Karakteristik, hingga Dampaknya

Oh Begitu
2 Kematian Flu Burung H5N6 Dilaporkan China, 3 Pasien Dirawat Intensif

2 Kematian Flu Burung H5N6 Dilaporkan China, 3 Pasien Dirawat Intensif

Fenomena
Cara Cek dan Download Sertifikat Vaksin Booster di PeduliLindungi

Cara Cek dan Download Sertifikat Vaksin Booster di PeduliLindungi

Oh Begitu
Ahli Peringatkan Kepunahan Massal Keenam Sedang Berlangsung di Bumi

Ahli Peringatkan Kepunahan Massal Keenam Sedang Berlangsung di Bumi

Fenomena
Usai Matahari, China Bakal Bikin Bulan Tiruan

Usai Matahari, China Bakal Bikin Bulan Tiruan

Oh Begitu
Analisis Ulang Ungkap Dinosurus Lapis Baja Bergerak Lambat dan Tak Bisa Mendengar

Analisis Ulang Ungkap Dinosurus Lapis Baja Bergerak Lambat dan Tak Bisa Mendengar

Oh Begitu
Inti Dalam Bumi Lebih Cepat Mendingin, Apa Dampaknya?

Inti Dalam Bumi Lebih Cepat Mendingin, Apa Dampaknya?

Fenomena
[POPULER SAINS]: Kunci Penting Menurunkan Berat Badan | Peringatan Tsunami Tonga Dicabut | Riset Vaksin Booster

[POPULER SAINS]: Kunci Penting Menurunkan Berat Badan | Peringatan Tsunami Tonga Dicabut | Riset Vaksin Booster

Oh Begitu
Gurita Paling Langka Ini Menampakkan Diri di Great Barrier Reef

Gurita Paling Langka Ini Menampakkan Diri di Great Barrier Reef

Fenomena
Update Vaksin Booster, Regimen Tambahan Vaksin Pfizer dan AstraZeneca Disetujui BPOM

Update Vaksin Booster, Regimen Tambahan Vaksin Pfizer dan AstraZeneca Disetujui BPOM

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.