Akibat Fatal Budaya Kerja Berlebihan Karyawan Jepang

Kompas.com - 03/01/2017, 17:18 WIB
Penyebrang jalan di Shibuya, Tokyo, Jepang. ThinkstockphotosPenyebrang jalan di Shibuya, Tokyo, Jepang.
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Keseimbangan antara kerja dan kehidupan sepertinya tak berlaku di Jepang. Bagi para karyawan di Jepang, kerja dan kehidupan adalah sama.

"Ini sudah jam 4 pagi. Badan saya gemetar. Saya seperti akan mati." Itu adalah salah satu tweet Matsuri Takahashi tak lama sebelum ia bunuh diri tahun lalu dengan cara melompat dari atas gedung. Takahashi, wanita berusia 24 tahun ini adalah pekerja di perusahaan periklanan Dentsu.

Bukan hanya kelelahan bekerja, dalam tweet-nya Takahashi juga mengatakan ia menjadi korban pelecehan bosnya. Skandal tersebut membuat pimpinan Dentsu, Tahashi Ishii memilih mengundurkan diri. Ia juga meminta maaf kepada keluarga Takahashi secara pribadi.

Budaya kerja sampai tenaga habis, di mana waktu kerja minimal 12 jam sehari, tidak hanya terjadi di Dentsu, tapi mayoritas perusahaan Jepang.

Rata-rata karyawan bekerja lebih dari 60 jam seminggu, bahkan sangat jarang mengambil libur. Kondisi itu membuat karyawan sebenarnya stres, tertekan, dan kelelahan. Sampai-sampai ada istilah karoshi atau mati karena kelebihan kerja.

Karoshi bukan sekadar istilah, karena menurut Kementrian Tenaga Kerja Jepang tercatat ada 200 kasus kematian karoshi, termasuk bunuh diri, serangan jantung, dan stroke. Walau demikian sejumlah pihak meyakini angkanya jauh lebih besar.

Korban karoshi biasanya adalah pekerja berusia 20-an tahun dan laki-laki, walau kini semakin banyak pekerja wanita yang juga mengalaminya. Seperti dikutip dari The Washington Post, angka bunuh diri pada perempuan naik 39 persen dalam empat tahun terakhir.

"Bukan hal yang aneh di Jepang di usia awal 30 tahun sudah mengalami serangan jantung," kata Hiroshi Kawahito, pengacara kelompok advokasi untuk korban.

Mereka yang terbukti meninggal karena karoshi memang akan mendapat kompensasi dari pemerintah. Klaim untuk kasus ini disebut naik tajam, sampai 2.310 karoshi pertahun.

Pemerintah Jepang memang berencana untuk mengubah budaya kerja berlebihan ini dan mendorong karyawan untuk mengambil waktu berlibur.

Masalahnya, mengubah budaya kerja bukanlah hal yang gampang. Ada sejumlah faktor yang dianggap menambah kompleks masalah, misalnya saja pekerja di Jepang umumnya hanya bekerja di satu perusahaan dalam waktu lama.

Selain itu, populasi penduduk Jepang yang makin menua juga membuat hanya sedikit tenaga kerja berusia muda sehingga beban kerja juga semakin tinggi.

Salah seorang profesor di Universitas Kansai mengatakan, mengubah karoshi butuh banyak usaha. "Jam kerja yang panjang adalah akar dari semua kejahatan di Jepang. Orang sebegitu sibuknya sampai mereka tidak punya waktu untuk mengeluh," katanya.



Sumber Newser
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X