Kompas.com - 28/12/2016, 20:56 WIB
Ilustrasi. shutterstockIlustrasi.
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Membujuk anak ke dokter gigi itu gampang-gampang susah. Perlu kerjasama antara orangtua dan dokter gigi agar anak mau periksa ke dokter gigi.

Drg. Bonita Putri Arinida, pakar kesehatan gigi dari D’Gigiku Kids di Bandung mengatakan bahwa butuh keahlian tersendiri untuk menangani pasien anak. Tiap anak bisa beda cara menanganinya.

“Dokter gigi harus bisa menumbuhkan rasa nyaman pada anak. Tapi itu butuh kesabaran lebih karena pasien anak butuh waktu adaptasi lebih lama dari pasien dewasa,” ujar lulusan Universitas Padjajaran ini.

Bagi drg. Bonita, kesan pertama anak terhadap dokter gigi sangat penting. Karenanya ia berusaha membangun hubungan dengan si anak sejak awal.

“Caranya bisa dengan diajak ngobrol mengenai sekolahnya. Bisa juga mengenalkan alat-alat yang akan digunakan untuk memeriksa gigi si anak atau hal-hal seputar gigi,” papar drg. Bonita.

Jika cara tersebut kurang berhasil, Bonita punya senjata lain berupa boneka, permainan, atau saluran televisi khusus anak. Apalagi klinik tempat ia praktek termasuk yang sudah dilengkapi dengan fasilitas tersebut.

Meski demikian, drg. Bonita mengaku kalau cara-cara tersebut tak selalu berhasil. Ada kalanya anak terlalu takut dan menolak keras untuk diperiksa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Ada yang sampai tak mau buka mulut. Ada juga yang tak mau dicabut pakai tang hingga diperlukan tiga kali kunjungan untuk cabut satu gigi. Yang seperti itu kan tidak efisien,” papar drg. Bonita.

Sebetulnya, lanjut drg. Bonita, ada cara lain untuk membangun rasa nyaman anak terhadap dokter gigi. Hal tersebut adalah rutin periksa tiap enam bulan sekali.

"Tanpa menunggu sakit gigi, harusnya dibawa ke dokter gigi tiap enam bulan sekali. Kalau sudah biasa, anak jadi tidak takut dengan dokter gigi," ucap drg Bonita.

Hal ini diamini oleh Ketua Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia Cabang Jakarta, Dr. Eva Fauziah, drg., Sp.KGA. Ia mengakui bahwa dokter gigi butuh ‘bantuan’ orangtua untuk urusan tersebut.

“Jangan tunggu sakit. Nanti anak bisa takut atau bahkan trauma dan masalah giginya jadi lebih sulit ditangani,” imbuh Dr. Eva dalam Media Briefing Bulan Kesehatan Gigi 2016 di Jakarta beberapa waktu lalu.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X