Bangun Budaya Sadar Bencana

Kompas.com - 26/12/2016, 20:36 WIB
Seorang lelaki melintasi reruntuhan yang terempas tsunami dari Samudera Hindia hingga ke depan Masjid Raya di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Gambar diambil pada 29 Desember 2004. AP/Dita Alangkara Seorang lelaki melintasi reruntuhan yang terempas tsunami dari Samudera Hindia hingga ke depan Masjid Raya di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Gambar diambil pada 29 Desember 2004.
Penulis Ahmad Arif
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Saat masyarakat Aceh mulai melupakan tragedi gempa dan tsunami yang melanda persis 12 tahun silam, pada 7 Desember 2016, gempa M 6,5 mengguncang Pidie Jaya di pesisir timur provinsi ini. Gempa Pidie Jaya di zona belum terpetakan itu mengingatkan pentingnya membangun budaya siaga bencana.

Aceh yang kehilangan sekitar 170.000 warganya dalam gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 belum banyak belajar, terutama pentingnya bangunan tahan gempa.

Gempa yang melanda Pidie Jaya termasuk menengah, tetapi memicu kerusakan parah dan 104 korban tewas akibat tertimpa bangunan. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, jumlah rumah rusak akibat gempa 8.582 unit. Sebanyak 2.874 unit rumah berada di Pidie Jaya, 63 rumah di Pidie, dan 149 rumah di Bireuen.

Bandingkan misalnya gempa dangkal berkekuatan M 7,8 yang melanda Selandia Baru, 13 November 2016, menewaskan dua orang. "Beberapa rekan peneliti dari luar negeri, khususnya Jepang, bertanya, mengapa gempa di Pidie Jaya yang relatif kecil menimbulkan banyak korban," sebut Rahma Hanifa, peneliti gempa bumi dari Institut Teknologi Bandung.

Survei oleh Badan Geologi menemukan, area terdampak gempa di Pidie Jaya memiliki struktur tanah rentan karena tersusun dari batuan lunak yang tebal. "Penguatan guncangan akibat gempa di Pidie Jaya mencapai enam kali," kata Sri Hidayati dari Badan Geologi.

Selain faktor kondisi tanah, menurut survei oleh peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Muzli, mutu bangunan buruk menjadi faktor utama banyaknya kerusakan. "Banyak bangunan rusak berat, tetapi bangunan di sampingnya utuh. Pengukuran memakai mikro tremor menunjukkan hal sama," ujarnya.

Kajian yang dilakukan tim Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menemukan banyak bangunan yang hancur dibangun setelah tahun 2004, termasuk bangunan pemerintah dan rumah sakit. "Banyak bangunan salah konstruksi. Misalnya, ditemukan kolom diisi pipa paralon serta banyak kesalahan sambungan antara kolom dan balok," kata Syamsidik, Wakil Ketua Tsunami dan Disaster Mitigation Research Center Unsyiah.

Situasi itu menunjukkan, gempa besar di Aceh 12 tahun silam belum memicu perubahan dalam prinsip membangun rumah aman gempa. "Kurang besar apa bencana 2004 sehingga tak menyadarkan untuk berubah. Cara warga membangun dan sikap pemerintah menerbitkan izin mendirikan bangunan tak berubah," ujarnya.

Manajemen bencana

Setelah gempa dan tsunami melanda Aceh, Minggu, 12 Desember 2004, kemajuan bidang manajemen penanganan bencana, khususnya gempa dan tsunami, di Indonesia berkembang pesat. Sistem peringatan dini tsunami atau Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) memungkinkan pemerintah mengirim peringatan tsunami lima menit setelah gempa.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X