Kompas.com - 26/12/2016, 20:36 WIB
Penulis Ahmad Arif
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Saat masyarakat Aceh mulai melupakan tragedi gempa dan tsunami yang melanda persis 12 tahun silam, pada 7 Desember 2016, gempa M 6,5 mengguncang Pidie Jaya di pesisir timur provinsi ini. Gempa Pidie Jaya di zona belum terpetakan itu mengingatkan pentingnya membangun budaya siaga bencana.

Aceh yang kehilangan sekitar 170.000 warganya dalam gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 belum banyak belajar, terutama pentingnya bangunan tahan gempa.

Gempa yang melanda Pidie Jaya termasuk menengah, tetapi memicu kerusakan parah dan 104 korban tewas akibat tertimpa bangunan. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, jumlah rumah rusak akibat gempa 8.582 unit. Sebanyak 2.874 unit rumah berada di Pidie Jaya, 63 rumah di Pidie, dan 149 rumah di Bireuen.

Bandingkan misalnya gempa dangkal berkekuatan M 7,8 yang melanda Selandia Baru, 13 November 2016, menewaskan dua orang. "Beberapa rekan peneliti dari luar negeri, khususnya Jepang, bertanya, mengapa gempa di Pidie Jaya yang relatif kecil menimbulkan banyak korban," sebut Rahma Hanifa, peneliti gempa bumi dari Institut Teknologi Bandung.

Survei oleh Badan Geologi menemukan, area terdampak gempa di Pidie Jaya memiliki struktur tanah rentan karena tersusun dari batuan lunak yang tebal. "Penguatan guncangan akibat gempa di Pidie Jaya mencapai enam kali," kata Sri Hidayati dari Badan Geologi.

Selain faktor kondisi tanah, menurut survei oleh peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Muzli, mutu bangunan buruk menjadi faktor utama banyaknya kerusakan. "Banyak bangunan rusak berat, tetapi bangunan di sampingnya utuh. Pengukuran memakai mikro tremor menunjukkan hal sama," ujarnya.

Kajian yang dilakukan tim Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menemukan banyak bangunan yang hancur dibangun setelah tahun 2004, termasuk bangunan pemerintah dan rumah sakit. "Banyak bangunan salah konstruksi. Misalnya, ditemukan kolom diisi pipa paralon serta banyak kesalahan sambungan antara kolom dan balok," kata Syamsidik, Wakil Ketua Tsunami dan Disaster Mitigation Research Center Unsyiah.

Situasi itu menunjukkan, gempa besar di Aceh 12 tahun silam belum memicu perubahan dalam prinsip membangun rumah aman gempa. "Kurang besar apa bencana 2004 sehingga tak menyadarkan untuk berubah. Cara warga membangun dan sikap pemerintah menerbitkan izin mendirikan bangunan tak berubah," ujarnya.

Manajemen bencana

Setelah gempa dan tsunami melanda Aceh, Minggu, 12 Desember 2004, kemajuan bidang manajemen penanganan bencana, khususnya gempa dan tsunami, di Indonesia berkembang pesat. Sistem peringatan dini tsunami atau Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) memungkinkan pemerintah mengirim peringatan tsunami lima menit setelah gempa.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Fenomena
Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Oh Begitu
Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Fenomena
Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Fenomena
Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Oh Begitu
Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Oh Begitu
Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Fenomena
Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Oh Begitu
Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Fenomena
2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

Oh Begitu
Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena
Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Oh Begitu
Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Oh Begitu
Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.