Tahan Kering, Tanaman Ini Bisa Bantu Indonesia Hadapi Perubahan Iklim

Kompas.com - 19/12/2016, 18:51 WIB
Jewawut (Setaria italica) WikimediaJewawut (Setaria italica)
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Sumba menyimpan keragaman hayati yang luar biasa. Ekspedisi Widya Nusantara (W-WIN) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada April hingga Agustus 2016 mengungkap adanya tanaman pangan yang mampu bertahan di lahan super kering.

Tanaman pangan bernama jewawut (Setaria italica) itu bukan jenis baru dan sebenarnya telah dikenal luas di Indonesia. Namun di Sumba, tanaman itu beragam dan melimpah. "Kami menjumpai 13 jenis lokal yang terdapat di wilayah dari ketinggian 150 hingga 900 mdpl," kata Dwi Setyo Rini, peneliti anggota tim ekspedisi E-WIN.

Salah satu jenis jewawut dijumpai di Desa Wanggameti, Taman Nasional Laiwangi Wanggameti, Sumba. Wilayah itu berada di ketinggian 900 mdpl tetapi sangat kering. Saking keringnya, alat pengukur kelembaban dan keasaman tanah yang dibawa peneliti tak bisa menancap.

"Yang luar biasa, di tanah yang sangat kering itu, jewawut bisa tumbuh. Kami analisis potensial osmotik tanah di sana dan hasilnya -70 Mega Pascal. Itu tanda sangat kering. Umumnya tanaman mati pada kondisi itu. Jewawut yang tetap tumbuh subur pada kondisi itu luar biasa," jelas Dwi.

Bagi Dwi yang menekuni genetika tanaman pangan, jewawut adalah fenomena menarik. "Kami ingin mengidentifikasi gen yang bertanggung jawab sehingga bisa tahan kering. Jewawut berasal dari Sumba. Sumba ada di Indonesia dan kita bisa meneliti dengan mudah. Kalau kita berhasil identifikasi, itu akan jadi referensi," katanya.

Saat ini, Dwi telah mengumpulkan beragam biji jewawut dan tanaman pangan lainnya. Identifikasi sebenarnya telah direncanakan. Namun, rencana itu terdampak pemotongan anggaran penelitian yang dilakukan pemerintah. Akhirnya, ia kini baru bisa fokus memperbanyak jewawut koleksi sehingga bisa diteliti ke depan.

Dwi mengatakan bahwa jewawut adalah kunci mengatasi kerawanan pangan di Sumba. Ketergantungan pada padi dan jagung serta hujan yang cuma turun selama 4 bulan dalam setahun membuat kelaparan terus berulang. "Kalau bisa jewawut ini ditingkatkan dari hanya makanan substitusi menjadi makanan alternatif atau bahkan pokok," kata Dwi.

Ditemui dalam Paparan dan Doalog Hasil Ekspedisi E-WIN pada Senin (19/12/2016), Dwi juga mengatakan bahwa meski masih harus diteliti lagi, kemampuan bertahan di lahan kering membuat jewawut berpotensi sebagai tanaman pangan di era perubahan iklim.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X