BrandzView
Halaman ini merupakan kerja sama antara Prodia dan Kompas.com

Waspadai Penyakit Prostat, Jangan Tunggu Usia 50 Tahun!

Kompas.com - 14/12/2016, 07:33 WIB
Ben Stiller terbebas dari kanker prostat. Ben Stiller terbebas dari kanker prostat.
|
EditorPalupi Annisa Auliani


KOMPAS.com – 
Aktor Ben Stiller sempat kaget saat divonis terkena kanker prostat. Pasalnya, ia tak punya riwayat keluarga dengan penyakit itu sebelumnya.

"Saya tak punya riwayat kanker prostat di keluarga dan tidak termasuk dalam kelompok berisiko. Saya pun tak punya gejala," kata Stiller dalam esai yang terpublikasi online dan diulas kembali oleh CNN, Rabu (5/10/2016)

Cerita itu dibagi Stiller dalam program radio Sirius XM yang dibawakan oleh Howard Stern. Ia mengaku tak akan pernah lupa dengan apa yang terjadi pada 2014, saat dia mendapatkan vonis itu.

Untungnya, sebelum prostat menjajah parah tubuhnya, dokter pribadi Stiller menyarankan ia untuk deteksi dini.

"Di dunia yang tak sempurna ini, saya percaya cara terbaik menentukan cara pengobatan masih dengan deteksi dini," tambahnya.

Pemain film Night at the Museum itu berujar bahwa dokter pribadinya menawarkan tes Protate Specific Antigen (PSA) ketika ia masih berusia 46.

Tes tersebut dilakukan untuk mengukur berapa banyak zat antigen spesifik yang diproduksi prostat. Jika kadarnya terlalu tinggi, itu mungkin gejala kanker prostat.

Sebagian besar pria diperiksa tes ini ketika berusia 50 tahun. Namun, Stiller setuju menjalani tawaran dokter pribadinya tersebut. 

Kanker prostat termasuk kanker yang lazim dialami pria di AS, merujuk National Cancer Institute.

Organisasi itu juga mengungkapkan bahwa kanker prostat termasuk penyebab kematian kedua pada pria. Maka dari itu, pria mesti waspada karena biasanya kanker ini tumbuh perlahan dan seringkali tak menampakkan gejala.

"Bila saya menunggu seperti saran American Cancer Society untuk diperiksa pada usia 50 tahun, saya mungkin tak tahu ada kanker tumbuh sampai dua tahun," tulis Stiller.

Di Indonesia

Di tanah air, saran pemeriksaan pada kanker prostat juga biasanya diperuntukkan bagi pria di atas usia 50 tahun.

Padahal, data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2013 mendapatkan perkiraan prevalensi kanker prostat di Indonesia adalah sebesar 0,2 persen atau sebanyak 25.012 penderita.

Thinkstock Ilustrasi kanker prostat.

“Insiden kanker prostat terus meningkat. Kebanyakan adalah laki-laki dengan usia di atas 65 tahun. Ada 80 persen penderita masuk dalam kategori usia itu,” ujar  dokter dari Laboratorium Klinik Prodia, Diah Syarifah, kepada Kompas.com, Rabu (16/12/2016).

Nah, meski pada dasarnya penyakit tersebut biasanya turun-temurun, tak menutup kemungkinan orang bisa terserang tanpa riwayat keluarga sebelumnya, seperti yang dialami Stiller.

“Memang, risikonya bisa menjadi dua sampai tiga kali lebih besar pada laki-laki yang memiliki riwayat kanker prostat dalam keluarga tingkat pertama, misalnya ayah kandung,” lanjutnya.

Bahkan, kata Diah, risiko bisa naik sampai empat kali lebih besar saat seorang lelaki memiliki dua atau lebih kerabat dengan riwayat kanker prostat.

Karenanya, deteksi dini atau skrining seperti PSA yang dilakukan Stiller menjadi penting, bahkan untuk laki-laki berusia muda sekalipun.

“PSA ini adalah cara untuk memantau penyakit dan atau pengobatan setelah pengangkatan prostat,” ucap Diah.

Jadi, tak perlu menunggu usia 50 tahun untuk memeriksakan diri juga, bukan?


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rahasia Alam Semesta: Seberapa Besar Alam Semesta ini?

Rahasia Alam Semesta: Seberapa Besar Alam Semesta ini?

Oh Begitu
Sering Tidak Terdiagnosis, Kenali Penyakit Autoimun Sjogren's Syndrome

Sering Tidak Terdiagnosis, Kenali Penyakit Autoimun Sjogren's Syndrome

Oh Begitu
Seri Baru Jadi Ortu: Bayi Pilek, Bagaimana Cara Sedot Ingusnya?

Seri Baru Jadi Ortu: Bayi Pilek, Bagaimana Cara Sedot Ingusnya?

Oh Begitu
Diabetes Penyakit Turunan, Mungkinkah Bisa Dicegah?

Diabetes Penyakit Turunan, Mungkinkah Bisa Dicegah?

Oh Begitu
Penyakit Baru di China Menghantui di Tengah Pandemi Covid-19, Apa Itu Virus Tick Borne?

Penyakit Baru di China Menghantui di Tengah Pandemi Covid-19, Apa Itu Virus Tick Borne?

Fenomena
Studi Temukan, OTG Corona Sama Menularnya dengan yang Bergejala

Studi Temukan, OTG Corona Sama Menularnya dengan yang Bergejala

Oh Begitu
Obesitas di Amerika Serikat bisa Turunkan Efektivitas Vaksin Covid-19

Obesitas di Amerika Serikat bisa Turunkan Efektivitas Vaksin Covid-19

Fenomena
Unika Atma Jaya Jakarta Resmikan Laboratorium Covid-19 Aman Lingkungan

Unika Atma Jaya Jakarta Resmikan Laboratorium Covid-19 Aman Lingkungan

Oh Begitu
AI Bisa Jadi Alat Transformasi Sampah Menjadi Produks Bernilai Seni, Kok Bisa?

AI Bisa Jadi Alat Transformasi Sampah Menjadi Produks Bernilai Seni, Kok Bisa?

Oh Begitu
Waspada, Penderita Diabetes Pengidap Covid-19 Lebih Banyak Meninggal

Waspada, Penderita Diabetes Pengidap Covid-19 Lebih Banyak Meninggal

Oh Begitu
Penciptaan AI Juga Butuh Etika, Apa Maksudnya? Ini Penjelasan Ahli

Penciptaan AI Juga Butuh Etika, Apa Maksudnya? Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Mengapa Ahli Ingatkan Waspada Infeksi Covid-19 jika Punya Diabetes?

Mengapa Ahli Ingatkan Waspada Infeksi Covid-19 jika Punya Diabetes?

Oh Begitu
Misteri Tubuh Manusia: Kenapa Air Bikin Jari Tangan dan Kaki Keriput?

Misteri Tubuh Manusia: Kenapa Air Bikin Jari Tangan dan Kaki Keriput?

Kita
Studi: Flu Biasa Melatih Sistem Kekebalan Tubuh Mengenali Covid-19

Studi: Flu Biasa Melatih Sistem Kekebalan Tubuh Mengenali Covid-19

Oh Begitu
Ilmuwan Sebut Kotoran Burung Laut Bisa Bernilai Jutaan Dollar, Kok Bisa?

Ilmuwan Sebut Kotoran Burung Laut Bisa Bernilai Jutaan Dollar, Kok Bisa?

Fenomena
komentar di artikel lainnya