Kompas.com - 05/12/2016, 11:35 WIB
Selena Gomez mengenakan gaun slip dress dalam sejumlah acara formal. WHOWHATWEAR.COMSelena Gomez mengenakan gaun slip dress dalam sejumlah acara formal.
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Saat ini seolah kita tak dapat hidup tanpa ponsel. Ketika telepon tertinggal di rumah, buru-buru kita kembali ke rumah. Tidur pun selalu bersama ponsel.

Selena Gomez mulai menyadari ketergantungan tak sehat ini dan ia menjalani detoks digital secara maksimal.

Belakangan sang penyanyi ini memutuskan hidup tanpa ponsel selama tiga bulan. Ternyata ia tak mati karena ketinggalan berita-berita terbaru. Ia justru mengalami hal terbaik dalam hidupnya.

"Pengalaman yang paling menyegarkan, menenangkan, meremajakan," katanya sambil menambahkan bahWA pengalaman itu benar-benar mengubah caranya memakai telepon. Sekarang saya jarang memegang ponsel dan hanya membatasi orang yang menghubungi saya," imbuhnya.

Ide menjalani detoks digital ini bukan hal baru. Sekarang ini masyarakat semakin tergantung pada ponsel untuk mendapatkan informasi, hiburan, pekerjaan, dan mengatur kehidupan dari hari ke hari.

Faktanya, 71 persen orang Amerika Serikat mengaku tidur bersama ponsel. Sekitar 90 persen generasi Milenial menaruhnya di meja samping tempat tidur atau di bawah bantal, menurut survei oleh Bank of America.

Konektivitas 24 jam sehari ini memberi dampak besar pada kesehatan dan memengaruhi tidur, pekerjaan, berat badan, hubungan dengan pasangan serta bahkan kehidupan seks.

Kecanduan ponsel ini dikenali sebagai kelainan dan kita juga dapat menjalani rehabilitasi untuk kecanduan ini. Selena Gomez direhabilitasi saat ia tak memakai ponsel. Saat itu ia diterapi untuk kelelahan dan kesehatan mental.

Lantas bagaimana dengan kita yang tak punya uang untuk menjalani pengobatan di fasilitas seperti Selena? "Tenang, Anda tak ditakdirkan menjadi budak alat elektronik," kata Paul Hokemeyer, PhD.

Ia menyarankan membuat aturan dasar untuk penggunaan ponsel. Pertama, buat batasan jelas dengan mematikan ponsel di setiap waktu pada malam hari sampai pagi.

Ia merekomendasikan antara pukul 23.00 sampai 08.00 pagi. Selanjutnya, buat catatan jumlah waktu yang dihabiskan memakai ponsel atau tablet untuk membantu kita menghadapi realitas.

Kemudian, pasang alarm untuk mengingatkan agar menaruh ponsel setiap 15 sampai 30 menit setelah beberapa jam main ponsel.

Terakhir, ia merekomendasikan membangun kesadaran pada pikiran dan perasaan. Beri perhatian pada emosi primer dan catat apakah Anda memilih menghindari atau mengatasinya.

Tips dari Hokemeyer ini merupakan cara mudah untuk melakukan detoks digital tanpa harus ketinggalan berita.



Sumber SHAPE
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Oh Begitu
Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Fenomena
Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Fenomena
Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Fenomena
Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Oh Begitu
63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

Fenomena
Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Oh Begitu
Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Oh Begitu
Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Oh Begitu
Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Oh Begitu
Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Kita
Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Oh Begitu
Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Oh Begitu
Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kita
Hobi Mumikan Kucing, Apa Alasan Orang Mesir Kuno Lakukan Itu?

Hobi Mumikan Kucing, Apa Alasan Orang Mesir Kuno Lakukan Itu?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X