Cerita Bidan Fifi yang Hidup Berdampingan dengan Komodo

Kompas.com - 03/12/2016, 11:46 WIB
Bidan Fifi Sumanti selaku Kepala Puskesmas Pembantu (Pustu) Komodo menceritakan kondisi Pustu kepada Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek, Selasa (29/11/2016). Dian Maharani/Kompas.comBidan Fifi Sumanti selaku Kepala Puskesmas Pembantu (Pustu) Komodo menceritakan kondisi Pustu kepada Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek, Selasa (29/11/2016).
|
EditorLusia Kus Anna

LABUAN BAJO, KOMPAS.com – Banyak hal yang membuat jantung Fifi Sumanti (24) berdegup kencang saat menjalani profesinya sebagai bidan.

Setelah lulus dari Akademi Kebidanan Syekh Yusuf Gowa di Makassar, Sulawesi Selatan, Fifi langsung kembali pulang ke tempat tinggalnya di Pulau Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Tak disangka, ia langsung mendapat pasien malam itu juga.

Fifi bahkan langsung mendapat kasus yang cukup berat, yaitu seorang ibu hamil yang mengalami gejala eklampsia atau tekanan darah tinggi.

“Malamnya saya dipanggil warga karena ada ibu hamil yang mengeluh sakit kepala, bengkak di bagian kaki dan wajah. Saat itu sama sekali tidak ada bidan yang ada hanya satu perawat laki-laki,” cerita Fifi kepada Kompas.com.

Sebagai bidan yang baru saja wisuda, Fifi mengaku masih minim pengalaman menangani ibu dengan eklampsia. Ia pun hanya mengandalkan teori. Di pulau yang terkenal sebagai destinasi pariwisata dunia itu memang ada Puskesmas Pembantu (Pustu) Komodo.

Akan tetapi, fasilitas kesehatan masih terbatas dan persediaan obat saat itu sedang kosong. Tentu belum memungkinkan untuk menangani kasus berat.

Dian Maharani/Kompas.com Dermaga Kampung Wisata Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Akhirnya Fifi memutuskan untuk merujuk ibu hamil tersebut ke Labuan Bajo. Labuan Bajo merupakan daerah pusat kota di Manggarai Barat. Saat itu, di sana pun hanya ada Puskemas Labuan Bajo. Rumah sakit besar baru ada di Labuan Bajo pada tahun 2016 ini.

Tapi, ibu hamil dan keluarganya tidak langsung bersedia untuk dirujuk. Padahal, situasi sudah darurat dan butuh keputusan cepat.

“Kebiasaan masyarakat Komodo itu kalau disuruh merujuk ke Labuan Bajo paling susah. Harus gunakan senjata pamungkas, seperti rayuan dan sedikit menakut nakuti. Ha-ha-ha,” ucap Fifi.

Setelah menjelaskan bahaya yang bisa dialami ibu hamil jika tidak segera dirujuk, keluarga pun setuju untuk membawa ibu hamil ke Labuan Bajo.

Pukul 23. 00 WIT, mereka berangkat menggunakan perahu motor untuk menyeberangi lautan. Butuh sekitar 4 jam untuk sampai di Labuan Bajo. Itu pun sangat tergantung gelombang laut.

Di pertengahan jalan, ibu hamil tersebut tiba-tiba kejang-kejang. Fifi merasa jantungnya mulai berdebar kencang. Di atas perahu, ia terus berdoa agar segera sampai di Labuan Bajo.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X