Menoleh Kembali ke Makanan Lokal yang Tersingkir oleh Beras

Kompas.com - 05/11/2016, 18:00 WIB
Ilustrasi THINKSTOCK.COMIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Bagi mereka yang bersekolah di SD sekitar tahun 1980-an pasti hapal dengan makanan pokok di beberapa daerah di Indonesia. Jagung adalah makanan pokok orang Madura. Sagu identik dengan rakyat Maluku dan Irian Jaya (sekarang Papua). Sayang, sejumlah makanan lokal itu pelan tapi pasti tersingkir oleh beras.

Nasi, yang diolah dari beras, memang lalu menjadi makanan pokok nasional penghasil karbohidrat. Saat berkunjung ke Papua beberapa tahun silam, sawah dengan tanaman padi menjadi pemandangan yang biasa.

Makan nasi sudah menjadi keharusan sehingga jika perut belum kemasukan nasi, kita sering bilang belum makan. Padahal sudah menyantap roti tawar plus buah. Atau mengisi pagi hari dengan singkong rebus atau singkong goreng plus secangkir teh manis.

Beruntung, masih ada beberapa daerah yang mempertahankan makanan lokal sebagai pengganti nasi. Kearifan lokal soal pangan ini ternyata mampu menepis krisis beras yang menerpa beberapa daerah. Jika pemerintah memberi perhatian lebih akan hal ini, gonjang-ganjing beras saat musim kacau begini tak lagi menjadi masalah.

Di Kampung Cireundeu, Kota Cimahi, Jawa Barat, masyarakat sudah terbiasa menyantap rasi alias beras singkong. Meski berembel-embel beras, tapi rasi sama sekali tak mengandung produk olahan dari tanaman padi itu. Bahan bakunya murni dari singkong yang tumbuh subur di Gunung Gajah Langu, Gunung Jambu, dan Gunung Puncak Salam yang mengelilingi Kampung Cireundeu.

Singkong diparut dan diperas untuk diambil patinya. Setelah disimpan semalam lalu dijemur di bawah sinar matahari. Setelah kering, ampas singkong digiling dan disaring sehingga menjadi tepung. Tepung yang masih berbentuk butiran kasar inilah yang disebut rasi. Lalu, di mana embel-embel berasnya?

Untuk menyantapnya, rasi diberi air dan dikukus selama sekitar 20 menit. Rasi pengganti nasi pun siap disantap dengan lauk seperti sayur dan ikan atau daging. Meski jadi anak singkong, namun tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat tidak jauh berbeda dengan daerah lain.

Lain Cireundeu, lain pula dengan Desa Sigedong-Tretep di Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Di sini masyarakatnya mengganti beras dengan jagung. Kebalikan dengan mereka penyantap nasi, di Sigedong-Tretep orang belum bilang makan kalau belum kemasukan jagung.

Bahkan menurut mereka, nasi beras tak memberi mereka tenaga.  Pukul 07.00 makan nasi beras, dua jam kemudian sudah merasa lapar. Berbeda dengan nasi jagung yang awet kenyangnya. Selain itu, nasi jagung juga tahan lama. Bisa bertahan sampai tiga hari.

Untuk mengolah nasi jagung, jagung yang habis dipetik dikeringkan dengan mengasapinya di atas tungku selama 2 - 3 bulan. Jangan bayangkan bahwa jagung ini diasapi terus menerus. Dapur penduduk desa biasanya menggunakan tungku berbahan bakar kayu. Nah, di atas tungku ini dipasang para-para tempat menaruh jagung. Asap yang keluar dari pembakaran kayu itulah yang digunakan untuk mengeringkan jagung.

Jadi, sambil memasak untuk kebutuhan sehari-hari, mereka sekaligus mengeringkan jagung. Bisa juga pengeringan dilakukan dengan menjemur di bawah terik matahari. Cuma, karena wilayah ini sering hujan karena terletak di pegunungan maka cara ini kurang praktis.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X