Kompas.com - 28/10/2016, 20:35 WIB
Wajah pluto ternyata berwarna-warni, terdiri dari biru pucat, kuning, dan merah gelap. NASAWajah pluto ternyata berwarna-warni, terdiri dari biru pucat, kuning, dan merah gelap.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Data dari pesawat luar angkasa New Horizons yang meneliti Pluto tahun lalu menunjukkan bahwa selain berkabut, planet kerdil tersebut mungkin juga memiliki awan.

Sebelumnya, New Horizons telah menemukan kabut di atmosfer tipis Pluto, dengan ketinggian 120 mil  dan dipisahkan menjadi setidaknya 24 lapisan yang berbeda.

“Tetapi kabut bukanlah awan,” kata S. Alan Stern, peneliti utama New Horizons.

Ia menjelaskan, kabut akan menyebar dan tidak memblokir sinar Matahari. Jika kita berdiri di permukaan Pluto dan melihat ke atas, kabut hanya akan menyaring sekitar dua persen cahaya Matahari. Sebaliknya, awan akan memblokir sinar Matahari sehingga tak terlihat dari permukaan.

Gambar sejernih kristal yang diambil New Horizons selama misinya pada bulan Juli 2015 menunjukkan bahwa Pluto hampir seluruhnya bebas awan.

Akan tetapi, pengamatan teliti gambar beresolusi tinggi mengungkap keberadaan tujuh objek cerah yang menyerupai awan melayang di atas permukaan Pluto. Ketujuh objek itu memiliki ukuran yang hampir mirip dan terjadi menjelang fajar atau senja. Diperkirakan, itulah waktu-waktu terbaik terbentuknya awan di Pluto. Meski demikian Stern mengatakan bahwa sulit untuk memastikannya.

“Kami tidak melihat tumpukan atau gerombolan awan. Kami hanya melihat awan individual,” ujarnya.

Ia melanjutkan, "Jika ada awan, itu berarti cuaca di Pluto bahkan lebih kompleks daripada yang kita bayangkan."

Bukan hanya itu, data New Horizons juga menunjukkan bahwa daerah terang (seperti wilayah besar berbentuk hati) di Pluto merupakan wilayah yang paling reflektif di tata surya.

"Kecerahan itu menunjukkan aktivitas permukaan," kata Bonnie Buratti, tim ilmuwan di Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena.

New Horizons telah menyelesaikan pengiriman seluruh data yang berhasil dikumpulkan ketika meneliti pluto kepada ilmuwan Bumi pada 23 oktober lalu. Kini pesawat luar angkasa tersebut berada sekitar 5,5 miliar kilometer dari Bumi dan 540 juta kilometer di sebelah luar Pluto.

New Horizons bergerak menjauhi matahari dengan kecepatan sekitar 14 kilometer/detik, menuju objek penelitian selanjutnya: 2014 MU69, objek mungil di Sabuk Kuiper yang berjarak 1,6 miliar kilometer dari Pluto. Diperkirakan, New Horizons akan sampai di 2014 MU69 pada tahun 2019 mendatang. (National Geographic Indonesia)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jangan Abaikan Jamur di Makanan, Berisiko Sebabkan Penyakit Termasuk Kanker

Jangan Abaikan Jamur di Makanan, Berisiko Sebabkan Penyakit Termasuk Kanker

Oh Begitu
Konten TikTok Pembukaan Persalinan Dinilai Pelecehan, IDI Diminta Beri Sanksi Tegas

Konten TikTok Pembukaan Persalinan Dinilai Pelecehan, IDI Diminta Beri Sanksi Tegas

Oh Begitu
Perangi Pemanasan Global, Ilmuwan Ciptakan Cat Paling Putih di Dunia

Perangi Pemanasan Global, Ilmuwan Ciptakan Cat Paling Putih di Dunia

Oh Begitu
BMKG: Siklon Tropis Surigae Tak Memengaruhi Cuaca Jabodetabek

BMKG: Siklon Tropis Surigae Tak Memengaruhi Cuaca Jabodetabek

Fenomena
5 Menu Sahur yang Menjaga Tubuh Tetap Berenergi Selama Puasa

5 Menu Sahur yang Menjaga Tubuh Tetap Berenergi Selama Puasa

Oh Begitu
Tanpa Disadari, Partikel Plastik Ada di Udara yang Kita Hirup

Tanpa Disadari, Partikel Plastik Ada di Udara yang Kita Hirup

Oh Begitu
Okultasi Mars di Malam Ramadhan, Catat Waktunya di Wilayah Indonesia

Okultasi Mars di Malam Ramadhan, Catat Waktunya di Wilayah Indonesia

Fenomena
Daftar Wilayah Indonesia yang Bisa Saksikan Okultasi Mars oleh Bulan Hari Ini

Daftar Wilayah Indonesia yang Bisa Saksikan Okultasi Mars oleh Bulan Hari Ini

Fenomena
Sembelit Selama Puasa, Kenali Tipe, Gejala Sembelit hingga Penyebabnya

Sembelit Selama Puasa, Kenali Tipe, Gejala Sembelit hingga Penyebabnya

Kita
Daftar Wilayah Waspada Banjir di Indonesia, dari Kalimantan hingga Papua

Daftar Wilayah Waspada Banjir di Indonesia, dari Kalimantan hingga Papua

Fenomena
11 Fenomena Hiasi Langit Indonesia Selama Bulan Ramadhan, Catat Jadwalnya

11 Fenomena Hiasi Langit Indonesia Selama Bulan Ramadhan, Catat Jadwalnya

Fenomena
Kekerasan Perawat di Palembang, Ini Sikap Persatuan Perawat Nasional Indonesia

Kekerasan Perawat di Palembang, Ini Sikap Persatuan Perawat Nasional Indonesia

Oh Begitu
Puasa Pasien Pasca-Covid, Ahli Ingatkan Pentingnya Konsumsi Air hingga Kekebalan

Puasa Pasien Pasca-Covid, Ahli Ingatkan Pentingnya Konsumsi Air hingga Kekebalan

Oh Begitu
Vaksin Johnson & Johnson akan Ditinjau CDC, Setelah Laporan Pembekuan Darah

Vaksin Johnson & Johnson akan Ditinjau CDC, Setelah Laporan Pembekuan Darah

Oh Begitu
Monkeydactyl, Dinosaurus Terbang dari China yang Bisa Panjat Pohon

Monkeydactyl, Dinosaurus Terbang dari China yang Bisa Panjat Pohon

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X