Puing Falcon 9 di Sumenep adalah Sampah Antariksa Terbesar yang Jatuh di Indonesia

Kompas.com - 07/10/2016, 18:15 WIB
Benda misterius jatuh dari langit di Pulau Giki Genting, Desa Lombang, Kecamatan Gili Genting, Kabupaten Sumenep, Senin (26/9/2016). handoutBenda misterius jatuh dari langit di Pulau Giki Genting, Desa Lombang, Kecamatan Gili Genting, Kabupaten Sumenep, Senin (26/9/2016).
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Puing roket Falcon 9 yang jatuh di Desa Lombang, Kecamatan Gili Genting, Kabupaten Sumenep, pada Senin (26/9/2016) menjadi sampah antariksa terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, dalam konferensi pers yang digelar di Bandung pada Jumat (7/10/2016) ini.

Thomas menjelaskan, sejak berdiri, Lapan telah menemukan sampah antariksa tiga kali. Puing sisa misi antariksa pertama yang ditemukan adalah pecahan roket Rusia yang jatuh di wilayah Gorontalo pada tahun 1981.

Kedua, salah satu bagian roket Soyuz A-2 Space Launcher 4 milik CIS Rusia juga jatuh di Lampung pada 16 April 1988. Benda itu berfungsi sebagai peluncur satelit Cosmos 1938 (satelit mata-mata militer).

Sementara itu, pecahan roket CZ-3 (satelit komunikasi DHF-3) milik China menjadi benda antariksa berukuran besar ketiga yang ditemukan Lapan. Benda itu jatuh di kebun karet Desa Bukit Harapan V, Kecamatan Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara, pada 14 Oktober 2003.

"(Temuan kali) ini paling besar dan paling banyak karena selebihnya di Gorontalo hanya satu saja. Itu tabung hampir bentuk bola yang berdiameter kira-kira 1 meter. Di Lampung juga sama. Kemudian di Bengkulu hanya lempeng logam 60 x 60 sentimeter," ujar Thomas.

Peneliti Lapan, Rhorom Priyatikanto, mengatakan, puing Falcon 9 yang ditemukan adalah tiga tabung yang diberi nama composite overwrapped pressure vessel, berbobot 80-100 kilogram. Panel kontrolnya berbobot 5 kilogram. Tabung itu dalam keadaan kosong.

"Fungsinya untuk menampung helium. Helium itu mengatur tekanan liquid oxygen yang ada dalam roket tersebut. Kemudian ada satu bagian mirip panel kelistrikan, itu memang sistem kontrolnya roket itu," ucap Rhorom.

Thomas menjelaskan, sebetulnya banyak sampah antariksa yang jatuh di Indonesia, tetapi ukurannya relatif kecil dan sulit teridentifikasi. "Banyak yang jatuh di laut, di hutan, mungkin bagi daerah yang punya gurun jatuh di gurun," ungkapnya.

Ada pula sampah antariksa yang jatuh terkontrol, yaitu sampah wahana pemburu planet milik Rusia, Skylab. Sampah itu jatuh di Pasifik Selatan. "Di luar itu, hingga kini belum ada lagi sampah antariksa yang jatuh terkontrol," katanya. 

Jatuhnya sampah antariksa sulit diprediksi. Karenanya, negara-negara pemilik benda antariksa itu biasanya mengirimkan peringatan ke negara yang dilintasi sampah antariksanya. Namun, kali ini, Indonesia tak mendapat peringatan akan jatuhnya puing roket Falcon 9.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.