Sapardi Djoko Damono: Puisi Masa Depan Mungkin Bentuknya Gambar

Kompas.com - 05/10/2016, 21:09 WIB
KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENG PANGERANG Sapardi Djoko Damono diabadikan usai acara peluncuran novel Hujan Bulan Juni karyanya di Gramedia Central Park, Jakarta Barat, Minggu (14/6/2015) sore.

KOMPAS.com — Era digital membuat banyak orang pesimistis. Mereka yang bergerak pada komunikasi berbasis teks di media cetak, misalnya, merasa karyanya tak dihargai sebesar dahulu.

Namun, Sapardi Djoko Damono, penyair legendaris yang dikenal lewat buku Hujan Bulan Juni sama sekali tak galau, malah cenderung optimistis.

Ia mengungkapkan, puisi akan tetap eksis, tak akan mati. Syaratnya, para penyair terbuka pada perkembangan teknologi.

Sapardi mengungkapkan, "Sastra sebenarnya adalah teknologi. Saya mengartikan teknologi sebagai cara manusia melakukan sesuatu."

Karakter teknologi adalah terus mengalami kemajuan dan pembaharuan. Sebagai teknologi, sastra pun sebenarnya punya karakter yang sama.

Dongeng bocah sebagai karya sastra sebelumnya hanya disampaikan secara lisan. Namun, seiring manusia mengenal aksara, dongeng kemudian dituliskan.

Lantas, Romeo dan Juliet dari Shakespeare semula bentuknya buku. Namun, perkembangan zaman membuatnya diubah menjadi film.

Beragam perkembangan, tanpa disadari, menunjukkan bahwa sastra telah berevolusi dari lisan, tulisan, menjadi audio-visual.

"Kalau sekarang beli novel, ada pilihannya kan. Mau buku, e-book, atau audiobook. Jadi, kita bisa mendengarkan sastra, bukan membaca karya sastra. Boleh enggak? Harus boleh," katanya.

Pada era digital, ketika teks yang panjang dianggap menjemukan dan gambar dianggap lebih engaging, puisi pun sebenarnya bisa berubah bentuk.

"Ke depan, puisi itu bisa berbentuk gambar," ungkap Sapardi saat ditemui Kompas.com seusai menerima Habibie Awards pada Rabu (5/10/2016).

Sapardi mengungkapkan, perkembangan era digital perlu dirayakan, bukan diratapi. Dalam konteks sastra, penyair dan pegiat sastra perlu meresponsnya dengan beradaptasi.

"Pemikiran bahwa puisi itu harus teks, karya sastra itu harus teks, itu yang harus diubah," kata Sapardi. "Cara berpikir berani itu yang saya harapkan," katanya.

Halaman:


EditorYunanto Wiji Utomo

Close Ads X