Jasamarga

Teka-teki "Jantung" Pluto Kini Terpecahkan

Kompas.com - 20/09/2016, 21:08 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Penulis

KOMPAS.com - Saat melintas dekat Pluto pada Juli 2015 lalu, wahana New Horizon menemukan fitur aneh yang bentuknya menyerupai jantung hati, lambang cinta. Para ilmuwan penasaran, bertanya-tanya tentang pembentukan fitur unik tersebut.

Riset yang dipublikasikan di Nature pada Juni 2016 lalu mengungkap bahwa "jantung" itu "berdetak", menandai adanya aktivitas geologi. Kini, riset yang dipublikasikan di jurnal yang sama pada Senin (19/9/2016) menguak proses di belakang pembentukan fitur itu.

Tanguy Bertrand, peneliti dari Université Pierre et Marie Curie yang melakukan riset menjelaskan, permukaan pluto terdiri dari wujud materi yang tak ditemukan di bumi, yaitu nitrogen, metana, dan karbon dioksida dalam bentuk es.

"Kami menemukan bahwa bentuk bentuk jantung tersebut terbentuk dari es nitrogen yang sangat mudah menguap yang secara tak terelakkan terakumulasi di basin, membentuk sumber es permanen yang kemudian dilihat New Horizon," ungkap Bertrand.

"Akumulasi terjadi karena kesetimbangan antara nitrogen dalam bentuk cair dan gas. Di dasar basin, tekanan atmosfer lebih tinggi, sehingga titik bekunya lebih tinggi daripada di tempat lain," imbuh Bertrand seperti dikutip Science Alert, Selasa (20/9/2016).

Riset itu menunjukkan bahwa Pluto tidak membutuhkan sumber nitrogen dari bawah permukaan untuk menjaga "jantungnya" tetap berdetak. Proses akumulasi nitrogen serta aktivitas geologi di Sputnik Planum - demikian nama area berbentuk jantung di Pluto - adalah sumber detak jantung Pluto.

Area jantung Pluto juga bisa kaya es sebab pergantian musim yang lambat. Mantan planet di Tata Surya itu mengelilingi matahari selama 248 tahun. Musim di sana berganti setiap beberapa dekade. Sputnik Planum akan mengalami musim dingin yang lama.

Sementara, Bertrand menambahkan, "Setengah gletser di Sputnik Planum adalah gletser yang massif, yang tak akan terdampak oleh perubahan musim. Gletser itu mungkin terbentuk saat basin terbentuk dan akan tetap ada pada masa depan."

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Berikan Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE


Video Pilihan Video Lainnya >

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau