Studi: Kabut Asap 2015 Memicu 100.000 Kematian Dini

Kompas.com - 19/09/2016, 19:34 WIB
Lantaran belasna hektarLahan Gambut Trbakar kota Mamuju utara Sulawesi barat terperangkat kabut asap. Meski asap pekat sudah mulai mengganggu warga terutama pengguna jalan di jalur trans Sulawesi namun hingga kini belum ada pembagian masker kepaawarga. Kompas.comLantaran belasna hektarLahan Gambut Trbakar kota Mamuju utara Sulawesi barat terperangkat kabut asap. Meski asap pekat sudah mulai mengganggu warga terutama pengguna jalan di jalur trans Sulawesi namun hingga kini belum ada pembagian masker kepaawarga.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia pada Juli - Oktober 2015 kerap dinyatakan terparah sepanjang sejarah, lebih parah dari kebakaran tahun 1997. Lebih dari 261.000 hektar lahan terbakar.

Studi yang dilakukan oleh ilmuwan di Harvard University dan Columbia University mengungkap bahwa kabut asap sebagai dampak kebakaran hutan tahun lalu memicu lebih dari 100.000 kematian dini.

Riset yang segera dipublikasikan di Environmental Research Letters tersebut berbasis pemodelan. Ilmuwan belum melakukan konfirmasi hasil studi dengan data resmi kematian di lapangan.

Namun demikian, studi awal itu bisa menjadi panggilan untuk Indonesia agar menyikapi masalah kebakaran hutan dengan serius.

Studi menganalisis kematian dini akibat kebakaran hutan berdasarkan cakupan wilayah serta hanya mempertimbangkan dampak yang mungkin ditimbulkan oleh partikel PM 2,5.

Hasil analisis mengungkap, kematian dini akibat kebakaran hutan diprediksi mencapai 100.300. Kematian dini di Indonesia diprediksi 91.600. Sementara, di Singapura dan Malaysia masing-masing 2.200 dan 6.500.

Joel Schwartz, pakar epidemologi karena polusi udara dari Harvard yang terlibat studi mengatakan, Indonesia memang menghadapi risiko tinggi terkena dampak kesehatan kebakaran hutan.

"Partikel masuk ke dalam ruangan, rumah di Indonesia punya ventilasi yang baik, sehingga saya pikir tidak ada pencegahan (asap masuk ke rumah) yang dapat dilakuakn efektif," katanya.

"Di Singapura, Anda bisa menutup jendela dan menyalakan AC sehingga bisa mendapat perlindungan," imbuhnya seperti dikutip Physorg, Senin (19/9/2016).

Nursyam Ibrahim dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalimantan Barat mengatakan, generasi muda Indonesia akan menghadapi tantangan kesehatan pada masa depan bila masalah kebakaran hutan tak ditangani serius.

"Kami dokter yang peduli dengan orang yang terdampak asap beracun. Sangat menyedihkan melihat gejala penyakit dialami oleh bayi dan anak yang kami rawat," katanya.

Kematian dini tidak berarti jumlah orang yang mati, namun potensi kematian di bawah usia harapan hidup yang terjadi akibat kebakaran hutan.


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X