Kalbe Farma Mengembangkan Riset Sel Punca

Kompas.com - 10/09/2016, 15:10 WIB
Penelitian dan pengembangan sel punca dan kanker di laboratorium Stem Cell & Cancer Institute PT Kalbe Farma, di Pulomas, Jakarta, Jumat (9/9). Kompas/Heru Sri KumoroPenelitian dan pengembangan sel punca dan kanker di laboratorium Stem Cell & Cancer Institute PT Kalbe Farma, di Pulomas, Jakarta, Jumat (9/9).
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS — Banyak negara berlomba dalam riset sel punca karena terapi itu dinilai menjanjikan. Selain dunia akademisi, industri juga getol melaksanakan penelitian itu.

Di Indonesia, penelitian dan pengembangan sel punca telah dimulai oleh PT Kalbe Farma sejak satu dekade lalu.

Sel punca (stem cell) ialah sel induk yang belum terdiferensiasi jadi sel matang. Ada dua jenis sel punca, yakni sel punca dari tubuh pasien sendiri (autologous) dan sel punca dari orang lain (allogenic). Terapi dilakukan dengan menyuntikkan sel punca ke pasien untuk memperbaiki organ atau jaringan tubuh yang rusak.

Deputi Direktur Stem Cell and Cancer Institute (SCI) PT Kalbe Farma, Sandy Qlintang, Jumat (9/9), di Jakarta, mengatakan, melalui SCI, Kalbe Farma melakukan riset dan komersialisasi sel punca.

Menurut Sandy, agar bisa sejajar dengan negara lain, riset sel punca memerlukan waktu dan komitmen dana memadai. Pihak SCI mendapat alokasi dana riset hingga Rp 8 miliar setahun. Itu bagian dana riset dan pengembangan Kalbe Rp 300 miliar-Rp 400 miliar, dan tak terpengaruh naik turunnya iklim bisnis farmasi.

Kerja sama

Investasi sumber daya manusia pun dilakukan. SCI mendorong 15 penelitinya agar melanjutkan studi dan tampil di konferensi internasional. Pihak Kalbe juga bekerja sama dengan 11 rumah sakit pendidikan, termasuk RS Pusat Cipto Mangunkusumo Jakarta, dan RS Umum Daerah Soetomo, Surabaya, dalam pengembangan sel punca.

Kerja sama juga dilakukan dengan universitas di luar negeri, seperti di Australia, Jerman, Hongkong, dan Amerika Serikat. "Upaya itu agar Indonesia jadi tuan rumah di negeri sendiri bidang terapi sel punca," ujarnya.

Kini, SCI mengembangkan sel punca auotologus untuk osteoarthritis (OA), jantung (myocard infarct), dan patah tulang. "Untuk OA, ada 50-60 pasien dan jantung 20 pasien," ucapnya.

Selain itu, SCI mengembangkan sel punca allogenic dan kini tahap uji klinis untuk penyakit autoimun, cedera tulang belakang, diabetes, dan sirosis hati. Sementara sel punca pluripoten terinduksi (IPSC), sel punca diferensiasi, dan imunoterapi kanker, masih dalam tahap riset.

Biaya terapi sel punca Rp 1 per satu juta sel yang disuntikkan. Adapun jumlah sel yang disuntikkan untuk sekali terapi 1-2 juta per kilogram berat badan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X