Apa Manfaat Terapi Bekam untuk Atlet Olimpiade?

Kompas.com - 09/08/2016, 12:00 WIB
Michael Phelps Michael Phelps
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Atlet elit renang Michael Phelps memenangkan medali emas di Olimpiade Rio dengan bekas kemerahan atau keungguan berbentuk bulat di punggung dan bahu. Rupanya ia menjalani terapi bekam yang disukai pula selebriti seperti Jennifer Aniston dan Gwyneth Paltrow itu.

Tetapi Phelps bukan satu-satunya atlet di Rio yang memiliki bekas kop. Beberapa Olimpian dari AS juga menyukai terapi kuno itu. Sebenarnya bekam atau kop sudah mulai dikenal sejak Olimpiade Beijing 2008 dan olimpiade kali ini merupakan yang pertama bagi Olimpian Amerika mendapatkan terapi itu.

Kop dipercaya meningkatkan aliran darah khusus di area yang dikop serta menstimulai "energi alami" tubuh alias chi. Bagian kulit yang disedot selama beberapa menit itu meninggalkan bekas kemerahan atau keunguan.

Sejatinya, untuk para atlet elit itu belum ada studi yang membuktikan manfaat bekam untuk meningkatkan kinerja para atlet. Perenang elit satu tim Phelps, Nathan Adrian mengatakan kop merupakan alternatif yang bagus selain pijat.

Namun, terdapat riset yang mengatakan kop mungkin efektif untuk menerapi otot atlet yang kelelahan. Studi lain meneliti kop mungkin bermanfaat sebagai terapi tambahan untuk nyeri kronis dan migren. Tetapi semua studi itu belum memenuhi standar tertinggi riset terapetik : mengujinya melawan kontrol plasebo.

Pengobatan plasebo akan memisahkan efek bekam dengan rasa percaya (sugesti) peserta penelitian akan khasiatnya. Hal itu akan membuat pengukuran kandungan khasiatnya jadi lebih akurat.

Alasan tidak adanya kelompok kontrol plasebo dalam penelitian soal kop karena peneliti belum menemukan cara menciptakan intervensi plasebo yang meyakinkan. Begitu menurut Mayo Clinic.

Riset pada 2012 menemukan bahwa bekam dikombinasi dengan pengobatan tradisional China yang lain atau obat-obatan moderen tampaknya lebih efektif dalam mengobati penyakit seperti jerawat, kelumpuhan wajah dan herpes zoster, dibandingkan pengobatan tradisional saja atau obat-obatan moderen saja.

Mereka sampai pada kesimpulan ini setelah mereview 135 percobaan terkontrol acak, kendati mereka mengakui dalam laporan sebagian besar studi berisiko tinggi untuk bias.

Kop juga mungkin bermanfaat untuk mengatasi nyeri. Sebuah studi dari 2011 dari 7 percobaan terkontrol acak menemukan bahwa orang mengalami pengurangan nyeri bermakna dengan kop dibandingkan dengan obat pereda nyeri, obat anti virus atau bantalan panas.

Tetapi dalam meta analisa 2012, periset dari studi ini juga mengungkapkan sebagian besar percobaan berisiko tinggi dan memiliki metodologi lemah. Mereka juga mencatat mungkin ada bias, berhubung peneliti hanya menerbitkan hasil positif mengenai kop dan terapi tradisional lain dan tidak membolehkan orang lain meneliti dan mengukur efek negatif lain.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X