"Neraka" di Jupiter, Panasnya Mengalahkan Lava Terpanas di Bumi

Kompas.com - 28/07/2016, 21:43 WIB
Titik merah Jupiter. Suhunya mencapai 1.300 derajat celsius, mengalahkan lava terpanas di Bumi. NASATitik merah Jupiter. Suhunya mencapai 1.300 derajat celsius, mengalahkan lava terpanas di Bumi.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Planet Jupiter memiliki titik merah besar pada permukaannya. Penelitian dan observasi yang dilakukan baru-baru ini mengungkap bahwa suhu udara di atas titik merah besar tersebut, saat badai gemuruh tidak berhenti terjadi, bisa mencapai 1.300 derajat celsius.

Suhu ini lebih panas daripada lava paling panas yang ada di Bumi.

"Itu adalah suhu paling panas yang dapat kami lihat di seluruh bagian planet, di atas atmosfer," kata peneliti James O'Donoghue dari Boston University seperti dikutip dari National Geographic, Kamis (27/7/2016).

Meski begitu, bagaimana badai paling besar dalam sistem solar mampu membakar lapisan-lapisan gas di atasnya belum sepenuhnya diketahui.

Namun, rupanya para peneliti meyakini bahwa gelombang suara yang dihasilkan oleh badai-badai yang terjadi titik merah itu menggaung ke atas dan mampu memanaskan lapisan atmosfer.

Observasi yang dilakukan O'Donoghue beserta tim dengan menggunakan teleskop inframerah milik NASA di Hawaii menunjukkan, setidaknya ada satu bagian dari di planet itu yang mendidih dan menghasilkan titik panas yang besar.

Rupanya, titik itu berpusat di atas titik merah Jupiter, dengan badai-badai sangat besar terus terjadi selama berabad-abad.

O'Donoghue dan timnya melihat sebuah bentuk tertentu dari hidorgen yang disebut h3+ yang ada di lapisan atmosfer Jupiter.

Berdasarkan intensitas cahaya inframerah yang dipancarkan oleh ion di dalamnya, mereka bisa mengukur suhu udara yang ada dalam jarak 804 kilometer di atas titik merah besar Jupiter.

Mereka mengira bahwa gelombang suara yang dihasilkan oleh badai-badai besar yang selalu terjadi di titik merah besar itu dapat memanaskan lapisan atmosfer paling atas Jupiter selama badai-badai itu menggoyang dan menggetarkan gas-gas yang ada di Jupiter.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X