BrandzView
Halaman ini merupakan kerja sama antara Prodia dan Kompas.com

Orangtua, Sudahkah Memenuhi Hak Dasar Anak yang Satu Ini?

Kompas.com - 22/07/2016, 11:37 WIB
Ilustrasi medical check-up pada anak. ThinkstockIlustrasi medical check-up pada anak.
|
EditorPalupi Annisa Auliani


JAKARTA, KOMPAS.com –
Sebagaimana orang dewasa, anak juga punya hak dasar untuk dipenuhi, termasuk urusan kesehatan. Layanan paket kesehatan yang mencakup medical check-up untuk anak-anak ditengarai makin diminati. Apa pentingnya?

“Tren ini meningkat seiring dengan kesadaran bahwa melakukan tes kesehatan berkala juga merupakan kebutuhan dasar seseorang, termasuk anak-anak,” ujar dokter dari Laboratorium Klinik Prodia, Diah Syarifah, saat dihubungi Kompas.com, Jumat (10/6/2016).

Meski begitu, kata Diah kesadaran masyarakat belum menyeluruh. Artinya, orangtua yang sadar pentingnya melakukan tes kesehatan berkala pada anak masih sedikit.

“Padahal, meski mereka (anak-anak) tidak sakit, tes kesehatan berkala penting untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan anak,” tambahnya.

Nah, tujuan lain dari pemeriksaan ini barulah untuk mendeteksi penyakit sejak dini.

Sayangnya, untuk menumbuhkan kesadaran itu juga cukup sulit. Umumnya, orangtua yang sudah sadar akan pentingnya hal tersebut pun berawal dari anjuran dokter karena anak sudah terkena penyakit lebih dulu.

Sesuai usia anak

Untuk menumbuhkan kesadaran, edukasi megenai medical check-up anak perlu diketahui luas oleh masyarakat. Pada dasarnya, jenis pemeriksaan yang dilakukan untuk medical check-up pada anak berbeda dengan pemeriksaan untuk orang dewasa.

Selain pemeriksaan fisik seperti pada mata, telinga, dan mulut anak, diperlukan juga beberapa pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui status kesehatannya. 

Itu pun, jenis pemeriksaan laboratoriumnya akan berbeda-beda, dikelompokkan berdasarkan usia, dan disesuaikan dengan prevalensi penyakit terbesar di masyarakat Indonesia.

KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Ilustrasi medical check-up pada anak.

Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan untuk medical check-up pada bayi yang baru lahir, misalnya, akan berbeda dengan pemeriksaan untuk balita, usia pra-sekolah, kelompok usia sekolah, dan anak remaja. Risiko penyakit pada masing-masing kelompok usia tersebut berbeda. 

“Pemeriksaan untuk bayi baru lahir (usia 3-5 hari), umumnya bertujuan mendeteksi kemungkinan terdapat kelainan bawaan, misalnya (berkurangnya produksi hormon) hipotiroid,” kata Diah.

Adapun pemeriksaan laboratorium pada bayi hingga usia 1 tahun yang dianjurkan adalah tes hematologi rutin, untuk mendeteksi anemia yang kerap melanda. Anemia pada usia itu bisa mengganggu tumbuh kembang anak.

Lain lagi pada anak usia 1-3 tahun. Selain pemeriksaan hematologi rutin, mereka perlu pemeriksaan urine rutin untuk mendeteksi infeksi saluran kemih. Di atas usia itu, pemeriksaan laboratorium akan mengacu pada status nutrisi.

Thinkstock Ilustrasi medical check-up pada anak.

“Berbeda lagi dengan anak usia sekolah. Mereka sudah perlu diperiksa juga kondisi saluran cerna. Bahkan, jika perlu akan ditambahkan pemeriksaan profil lipid atau lemak. Kalau sudah remaja (usia 12-18 tahun) pemeriksaan sudah dimulai untuk deteksi diabetes mellitus dan hipertensi,” tutur Diah.

Bila orangtua sudah mengerti pentingnya medical check-up itu, barulah saatnya memulai kebiasaan itu. Ingat, cek kesehatan bagi anak sebaiknya juga dilakukan secara berkala, untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan anak akan berlangsung baik.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya