Kompas.com - 20/07/2016, 19:59 WIB
Sebaran manusia Austronesia di Asia Tenggara. WikipediaSebaran manusia Austronesia di Asia Tenggara.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Perubahan iklim yang memengaruhi ketersediaan sumber daya alam dan intensitas bencana diduga menjadi alasan utama migrasi penutur Austronesia dari Taiwan ke belahan dunia bagian selatan, termasuk ke wilayah Indonesia.

Para ahli, yang dipelopori arkeolog dari Australian National University, Peter Bellwood, kebanyakan telah sepakat bahwa nenek moyang penutur Austronesia muncul sekitar 5.000 tahun lalu di Taiwan. Mereka kemudian turun ke wilayah lebih hangat di selatan dengan berlayar dan tiba di Indonesia melalui Filipina sekitar 4.000 tahun lalu.

Arkeolog senior dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Harry Truman Simanjuntak, dalam Simposium Internasional Diaspora Austronesia di Badung, Bali, Selasa (19/7/2016), melengkapi teori ini dengan menyatakan, selain jalur timur ini, juga terdapat jalur barat, yaitu melalui Vietnam hingga Semenanjung Malaysia, sebelum kemudian tiba di Indonesia. "Kemungkinan jalur barat ini sedikit lebih awal dari migrasi dari timur. Diperkirakan sekitar 4.300 tahun lalu," ujarnya.

Meski asal-usul dan jalur migrasinya sudah dipetakan, penyebab migrasi sejauh ini masih diperdebatkan. "Kenapa mereka bermigrasi? Alasannya pasti tak sekadar mencari pulau baru untuk lahan pertanian atau sumber daya lain," kata Bellwood, dalam makalahnya. Bellwood, yang pertama kali memperkenalkan istilah Austronesia pada 1967, sedianya akan hadir, tetapi batal dengan alasan teknis. Bellwood hanya mengirim makalah terbarunya tentang perkembangan studi Austronesia.

Menurut Bellwood, migrasi ini kemungkinan terkait dengan alasan budaya, termasuk kemajuan pembuatan perahu dan navigasi pelayaran. Migrasi ini kemungkinan terjadi secara bergelombang dan bolak-balik.

Dinamika iklim

Studi lintas disiplin oleh ahli geologi dan geofisika Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Wahyoe Soepri Hantoro, membuka peluang baru alasan migrasi ini. Menurut dia, kondisi iklim ekstrem, terutama siklon atau topan tropis, di Taiwan kemungkinan turut memicu pencarian tanah baru. "Daerah tropis seperti Indonesia adalah wilayah aman untuk siklon tropis," ujarnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan berharap, dengan melihat kembali eksistensi perjalanan penutur Austronesia, masyarakat dapat melihat kembali bagaimana keberagaman di Indonesia tercipta. (ABK/AIK)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Libur Lebaran Waspada Hujan Lebat Dampak Cuaca Ekstrem, Ini Daftar Wilayahnya

Libur Lebaran Waspada Hujan Lebat Dampak Cuaca Ekstrem, Ini Daftar Wilayahnya

Fenomena
Penyebab Tekanan Darah Tinggi yang Perlu Anda Waspadai

Penyebab Tekanan Darah Tinggi yang Perlu Anda Waspadai

Kita
4 Makanan yang Harus Dihindari Saat Idul Fitri, demi Cegah Penyakit dan Kenaikan Berat Badan

4 Makanan yang Harus Dihindari Saat Idul Fitri, demi Cegah Penyakit dan Kenaikan Berat Badan

Oh Begitu
Dokter India Peringatkan Bahaya Mandi Kotoran Sapi untuk Cegah Corona

Dokter India Peringatkan Bahaya Mandi Kotoran Sapi untuk Cegah Corona

Kita
Covid-19 di India Membuat Banyak Jenazah Penuhi Tepi Sungai Gangga

Covid-19 di India Membuat Banyak Jenazah Penuhi Tepi Sungai Gangga

Fenomena
3 Tanaman Begonia Baru Endemik Sulawesi, Ada yang Spesies Langka di Asia

3 Tanaman Begonia Baru Endemik Sulawesi, Ada yang Spesies Langka di Asia

Fenomena
Hasil Riset: Sejak 1960, Manusia Ubah Daratan Seluas Eropa-Afrika

Hasil Riset: Sejak 1960, Manusia Ubah Daratan Seluas Eropa-Afrika

Oh Begitu
Daftar Herbal untuk Kolesterol, Cara Alami Turunkan Kolesterol

Daftar Herbal untuk Kolesterol, Cara Alami Turunkan Kolesterol

Oh Begitu
Kasus Covid-19 Harian Melonjak, WHO Peringatkan Bahaya Varian India

Kasus Covid-19 Harian Melonjak, WHO Peringatkan Bahaya Varian India

Oh Begitu
WHO: Tren Kasus Harian Covid-19 di Dunia Stagnan, tetapi Beberapa Negara Naik

WHO: Tren Kasus Harian Covid-19 di Dunia Stagnan, tetapi Beberapa Negara Naik

Oh Begitu
Efek Kebanyakan Minum Kopi dan Berapa Batas Aman Minum Kopi

Efek Kebanyakan Minum Kopi dan Berapa Batas Aman Minum Kopi

Oh Begitu
[POPULER SAINS] 1 Syawal 1442 H Jatuh Besok Kamis | Alasan Idul Fitri Tahun Ini Bertepatan dengan Kenaikan Isa Almasih

[POPULER SAINS] 1 Syawal 1442 H Jatuh Besok Kamis | Alasan Idul Fitri Tahun Ini Bertepatan dengan Kenaikan Isa Almasih

Oh Begitu
7 Herbal untuk Asam Lambung, Ada Bunga Kantil

7 Herbal untuk Asam Lambung, Ada Bunga Kantil

Oh Begitu
Tumbuh Kembang Anak Kembar, Studi Ungkap Lebih Lambat Bicara

Tumbuh Kembang Anak Kembar, Studi Ungkap Lebih Lambat Bicara

Oh Begitu
Hasil Sidang Isbat Idul Fitri: 1 Syawal 1442 H Jatuh pada Kamis, 13 Mei 2021

Hasil Sidang Isbat Idul Fitri: 1 Syawal 1442 H Jatuh pada Kamis, 13 Mei 2021

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X