"Halo-halo Bandung" di Inggris Raya

Kompas.com - 10/07/2016, 22:00 WIB
Kendaraan bertenaga listrik karya mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, menjuarai ajang balap mobil hemat energi Shell Eco Marathon Drivers World Championship, di Inggris, pekan lalu. Anggota tim tampak berpose bersama mobil karya mereka di lintasan lomba. Rini KustiasihKendaraan bertenaga listrik karya mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, menjuarai ajang balap mobil hemat energi Shell Eco Marathon Drivers World Championship, di Inggris, pekan lalu. Anggota tim tampak berpose bersama mobil karya mereka di lintasan lomba.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia dari Bandung, Jawa Barat, menorehkan sejarah dengan menjuarai Shell Eco Marathon Drivers World Championship di Inggris. Mengandalkan mobil bertenaga listrik Turangga Chetta EV3, tim Bumi Siliwangi itu mengungguli tim-tim lainnya dari Eropa, Asia, dan Amerika.

Kegembiraan dan tangis haru bercampur menjadi satu saat Turangga Chetta EV3 menerobos garis finis lintasan Queen Elizabeth Olympic Park, di Strattford, Inggris, Minggu (3/7/2016) sore waktu setempat. Mobil tim Bumi Siliwangi menjadi yang pertama tiba di garis akhir.

Tujuh mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) lari menyambut pengemudi mobil yang juga kawan mereka, Ramdani (22). "Saya tidak percaya. Saya tidak bisa bicara apa-apa lagi," ujar Ramdani.

Pendamping tim yang juga pengajar di Fakultas Pendidikan Teknik dan Kejuruan UPI, Sriyono (47), berusaha menenangkan dan merangkul para mahasiswa yang histeris. Mereka saling berangkulan di pundak, berkeliling menundukkan kepala, dan berdoa. Tidak lama kemudian, mereka menyanyikan "Indonesia Raya" di tengah-tengah lintasan. Sofiuddin Al Badri (22), salah satu anggota tim, menyelimutkan bendera Merah Putih di tubuhnya dan larut dalam tangis bahagia.

Tiga bulan

Hanya berselang tiga bulan sejak perhelatan Shell Eco Marathon (SEM) Asia di Manila, Filipina, Maret 2016, Tim Bumi Siliwangi bekerja keras menyiapkan mobil untuk mengikuti perhelatan SEM Drivers World Championship (DWC). Pada SEM Asia, Tim Bumi Siliwangi menduduki peringkat kedua dalam ajang mobil hemat energi se-Asia.

"Kami memiliki waktu kurang dari empat bulan untuk menyiapkan mobil. Kami berlatih terus di Bandung, baik di jalan datar maupun tanjakan. Kami menjajal trek di Lembang sehingga ketika ada trek tanjakan di sini, kami sudah lebih siap," kata Amin Sobirin (23), Manajer Tim Bumi Siliwangi.

Untuk memenuhi persyaratan SEM DWC, Tim dari UPI itu harus mengubah sejumlah spesifikasi mobil, antara lain rem. Sebelumnya, tim menggunakan rem sepeda. Kini, rem itu diganti dengan rem sepeda motor untuk memberi daya cengkeram lebih kuat. Panitia mensyaratkan rem sepeda motor lantaran SEM DWC tidak lagi ajang perlombaan mobil paling irit dengan jarak tempuh terjauh, tetapi mobil paling irit yang mampu paling cepat sampai di finis.

Panitia mensyaratkan mobil harus berhenti dalam jarak 20 meter sejak pertama kali direm pada kecepatan 50 kilometer per jam. Tim harus berkali-kali mencoba dengan menghitung segala faktor, seperti angin, kondisi ban, dan kecuraman jalan.

Jejak-jejak kerja keras itu terlihat pada badan mobil Turangga Chetta EV3 yang penyok di bagian depan dan di kanan-kiri. Berbeda dengan kondisi mobil peserta lainnya dari Eropa dan Amerika, bahkan dengan mobil milik mahasiswa Nanyang Technological University, Singapura, mobil Turangga terlihat lebih sederhana dan penyok-penyok atau tidak mulus.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X