Kompas.com - 01/07/2016, 21:26 WIB
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Laut bukan hanya tempat tinggal tetapi juga toilet.

Studi yang dipublikasikan di jurnal PLOS Biology pada Agustus 2011 mengungkap, sekitar 2,2 juta spesies, mulai zooplankton yang mikroskopik hingga makhluk seberat satu ton, hidup dan buang hajat di lautan.

Diantara banyak jenis hewan, paus merupakan spesies yang paling banyak menghasilkan "sampah".

Studi yang dirilis di Canadian Journal of Zoology mengungkap, Paus Sei yang bisa mencapai panjang 18 meter dan bobot 45 ton menghasilkan 627 liter urin sehari, setara 166 galon air minum.

Sementara, paus Fin sepanjang 26 meter dan berat 72.575 kilogram memproduksi 974 liter atau 257 galon urin per hari.

Jumlah feses laut belum pernah diukur tetapi dengam mudah dijumpai di permukaan laut. Feses salah satu mamalia terbesar di Bumi itu punya warna khas dan bau yang menyengat.

Meski merupakan sampah metabolisme, urin dan feses paus berguna, membuat manusia tetap bisa makan ikan.

Urin menyediakan nitrogen bagi lingkungan. Sementara feses selalin menyediakan nitrogen juga menyuplai lautan dengan fosfor dan zat besi.

Fitoplankton, makhluk laut kecil yang punya fungsi seperti pohon, menggunakan nutrisi dari kotoran paus untuk tumbuh.

Dengan nutrisi itu, fitoplankton mampu melakukan fotosintesis, menyediakan oksigen bagi makhluk laut lainnya, serta bereproduksi.

Pertumbuhan fitoplankton berkat kotoran paus memungkinkan ekosistem laut tetap seimbang.

Fitoplankton dimakan zooplankton. Zooplankton kemudian dimakan makhluk lain yang lebih besar. Demikian rantai makanan di lautan bekerja.

Joe Roman, ahli biologi dari Universitas Vermont, mengatakan bahwa paus adalah "insinyur ekosistem".

Beberapa jenis paus memangsa makhluk yang hidup di laut dalam dan membuang kotoran sisa pencernaan di permukaan lautan.

Paus menunjukkan keterhubungan antara makhluk laut dalam dan permukaan yang tak akan mungkin bertemu.

Dewasa ini, paus adalah hewan yang banyak menghadapi ancaman. Ilmuwan memerkirakan, penurunan populasi paus akan menyebankan petaka bagi organisme yang menggantungkan hidupnya dari kotoran paus.

Jika dibiarkan, stok ikan sebagai sumber protein bagi manusia terancam. Manusia mungkin akan sulit makan ikan.

"Riset menunjukkan, makin banyak paus, populasi populasi ikan juga akan meningkat. Ini karena paus melepaskan nutrisi yang menyokong kehidupan ikan-ikan," kata Ramon seperti dikutip Livescience, 25 Juni 2016 lalu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.