Mengatasi Susah Tidur Efek Malam Pertama

Kompas.com - 16/05/2016, 19:00 WIB
Ilustrasi thinkstockphotosIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

Efek Malam Pertama (EMP), bukanlah malam pertama seperti yang dialami pengantin baru. Tetapi kejadian suli tertidur di malam pertama Anda berpindah ruang tidur. Baik itu berupa kamar hotel, rumah baru, tidur di rumah kerabat, dan lain sebagainya.

Setelah beberapa waktu, akhirnya Anda pun beradaptasi di tempat tidur yang baru. Beberapa malam kemudian tidur sudah seperti biasa lagi. Rasa nyaman seperti di rumah sendiri diketahui sebagai faktor yang paling menentukan EMP ini.

Sekelompok peneliti dari Brown University di Rhode Island, mencoba meneliti fenomena ini. Para ahli mengamati beberapa orang yang baru pindah tempat tidur dengan pencitraan fungsi saraf mutakhir (MRI) dan polisomnografi (PSG).

PSG merupakan pemeriksaan tidur standar yang dilakukan di rumah sakit atau instalasi kesehatan terkemuka di dunia, juga di Indonesia.

Dari berbagai perekaman itu para ahli mendapatkan gambaran bagaimana seseorang tidur. Parameter utama yang dilihat adalah tahap tidur dalam (tahap tidur N3) yang dianggap sebagai tahap tidur yang paling memberikan kebugaran bagi tubuh.

Otak Pada EMP

Cukup mengejutkan, karena peneliti mendapati bahwa sisi kiri otak lebih terjaga dibanding sisi kanan saat pertama kali tidur di lokasi yang berbeda. Kedua hemisfer otak didapati tidur tidak seimbang.

Parameter lain yang ditentukan lewat PSG adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi seseorang untuk jatuh tidur (sleep onset). Kelompok peneliti yang sama di tahun 2005 pernah mendapati bahwa kedalaman tidur di malam pertama didominasi oleh tahap tidur ringan (tahap tidur N1).

Di malam-malam berikutnya, gelombang alpha yang merupakan pertanda dari tahap tidur N1 jadi menurun, dan berpindah ke theta yang merupakan petanda dari tahap tidur N2 yang lebih stabil. Tahap tidur N1, adalah tahap tidur ringan dimana seseorang masih sangat mudah terbangun.

Adapun pada penelitian terbaru, Sasaki dan timnya mendapati bahwa mula tidur akan semakin lama seiring dengan semakin berbedanya aktivitas tidur di sisi kiri dan kanan otak.

Perbedaan aktivitas tidur pada hemisfer kiri dan kanan otak mengingatkan kita pada tidur beberapa mamalia. Lumba-lumba dan beberapa jenis burung, dapat tidur separuh otak saja.
Pada hewan-hewan ini, bisa didapati satu hemisfer tidur dalam sementara hemisfer satunya terjaga penuh.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X