Mencari Pelangi Sentani yang Hilang - Kompas.com

Mencari Pelangi Sentani yang Hilang

Kompas.com - 09/05/2016, 19:09 WIB
Kadarusman/STP Jakarta Ikan yang diduga Chilatherina sentaniensis, jenis ikan pelangi dari Danau Sentani yang hilang.

KOMPAS.com - Dalam ekspedisi ke Indonesia tahun 1907, pakar zoologi berdarah Jerman Max Carl Wilhelm Weber mengoleksi ikan eksotik dari Danau Sentani, danau terbesar di Papua.

Ikan sepanjang 12 centimeter itu menarik perhatian karena tubuhnya yang berwarna pelangi, dengan demikian dimasukkan dalam golongan ikan pelangi.

Sejumlah ekspedisi yang dilakukan dari tahun 1950-an hingga 1980-an berhasil mendokumentasikan kembali keberadaan ikan pelangi Danau Sentani atau Chilatherina sentaniensis.

Namun sejak tahun 1990, ikan pelangi Danau Sentani tersebut sudah sulit ditemukan hingga banyak kalangan menduganya telah punah.

"Kepunahan rainbow Sentani mungkin disebabkan oleh kompetisi dan sistem predasi yang tak berimbang akibat spesies-spesies introduksi," kata pakar ikan pelangi Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, Kadarusman.

Spesies yang diintroduksi menjadi invasif, memakan telur-telur ikan pelangi. Jenis spesies invasif itu antara lain ikan gabus, ikan betok, dan munjair.

Sepanjang 27 April hingga 6 Mei 2016 lalu, Kadarusman bersama sejumlah peneliti melakukan ekspedisi ke Danau Sentani untuk mencari pelangi Sentani yang hilang itu.

Dalam penelitian hasil kerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Jayapura (Balitbangda Jayapura) itu, tim melakukan sampling di 44 titik, mengoleksi lebih dari 662 spesimen.

Tim berhasil mengoleksi ikan yang diduga merupakan Chilatherina sentaniensis. "Kemungkinan besar spesies tersebut ditemukan kembali lewat ekspedisi ini," kata Kadarusman.

Kadarusman mengatakan, ikan pelangi Danau Sentani memiliki moncong mulut yang lebih panjang dibandingkan dengan spesies lainnya.

Berdasarkan analisis cepat yang dilakukan, Kadarusman meyakini bahwa jenis yang berhasil dikoleksinya adalah ikan pelangi yang lama tak ditemukan.

"Namun masalahnya, Chilatherina sentaniensis sangat mirip dengan ikan lain yang satu genus. Kami harus lakukan analisis morfologi spesifik dan molekuler untuk mengonfirmasi," jelas Kadarusman kepada Kompas.com, Senin (9/5/2016).

Rekaman Baru

Selain menemukan spesies yang diduga Chilatherina sentaniensis, tim peneliti juga mencatat rekaman baru ikan pelangi jenis Melanotaenia affinis.

Spesies itu ditemukan di sungai bagian utara danau. Penemuan ini telah memperkaya catatan sains bahwa ikan pelangi Affinis hanya hidup bersama dengan genus Chilatherina.

Hendrite Ohee, pakar ekologi perairan Universitas Cendrawasih, Jayapura, mengatakan bahwa penemuan itu menunjukkan bahwa Melanotaenia affinis bisa hidup di habitat sungai berketinggian 150 meter di atas permukaan laut.

Tim peneliti juga mengungkap keragaman ikan pelangi di Danau Sentani, diantaranya spesies endemik bernama Glossolepis incisus.

Semetara itu, dalam bidang budidaya, sejumlah 662 spesimen yang dikoleksi kini didomestikasi di Pusat Domestikasi Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong.

Jika Chilatherina sentaniensis nantinya terkonfirmasi masih ada, maka peluang untuk membudidayakan dan mengomersialisasikan pun terbuka.


Hadi Nur Rohman, pakar akuakultur Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong yang terlibat mengungkapkan, ikan pelangi dari Papua termasuk komoditi ikan hias ekonomis penting di dunia.

Di pasar ikan hias di Jakarta, satu ekor ikan pelangi jantan dibandrol sekitar Rp. 20.000/ekor sedangkan di Eropa dihargai antara 15-25 Euro/ekor jantan.

EditorYunanto Wiji Utomo
Komentar
Close Ads X