Begini Rasanya Hidup dengan ADHD

Kompas.com - 01/05/2016, 19:01 WIB
Ilustrasi.
|
EditorBestari Kumala Dewi

Sumber WebMD

KOMPAS.com - Duane Gordon adalah manajer proyek di sebuah perusahaan di Montreal ketika bosnya meminta dia untuk memimpin pertemuan Senin pagi. "Saya sangat senang, karena jelas ini adalah tes [apakah] saya akhirnya bisa dipersiapkan untuk memimpin departemen," kenangnya.

 

Diskusi berlangsung pada hari Jumat sore. Pada hari Senin, semua orang yang muncul untuk pertemuan, bertanya-tanya di mana bos, termasuk Gordon.

 

"Saya benar-benar lupa bahwa saya lah yang harus memimpin pertemuan itu," katanya.

 

Ketika bos tidak muncul, semua orang kembali ke ruangan mereka masing-masing. Kemudian pada hari itu, bos datang dan bertanya kepada Gordon bagaimana pertemuan berlangsung.

 

"Saya berkata," Kami tidak memiliki pertemuan, Anda tidak di sini. ' Dan dia menatapku benar-benar tercengang, seperti, 'Bagaimana itu mungkin?' "

 

Gordon memiliki gangguan yang disebut attention deficit hyperactivity disorder atau gangguan kurangnya perhatian atau memori. Dia menggambarkan gangguan yang dimilikinya sebagai perasaan paranoia. "Kau selalu, selalu gelisah."

 

Gordon menjelaskan, "Anda tidak pernah tahu kapan sesuatu akan menjadi salah dan mengerikan. Jika bos memanggil saya, saya bertanya-tanya apa yang salah. Jika saya mendapatkan email, saya ingin tahu apakah saya akan masuk penjara. Anda berasumsi dan berharap bahwa setiap saat Anda akan tersingkir oleh sesuatu yang Anda lakukan tapi Anda lupakan."

 

ADHD adalah suatu kondisi yang dapat dimiliki oleh anak-anak dan orang dewasa. Gejalanya termasuk ketidakmampuan untuk fokus, mudah terganggu, hiperaktif, kurang keterampilan berorganisasi, dan impulsif.

 

Tidak semua orang yang memiliki ADHD memiliki semua gejala ini. Gejalanya bervariasi dari orang ke orang dan cenderung berubah sejalan usia.

 

Orang Dewasa Juga Bisa Memiliki ADHD

Hanya dalam beberapa dekade terakhir, peneliti menyadari bahwa ADHD dapat bertahan sampai dewasa.

 

Para ahli mengatakan setiap orang dewasa dengan ADHD, telah memilikinya ketika masih anak-anak, juga, apakah itu terdiagnosa atau tidak. Dan kebanyakan orang dewasa dengan ADHD tidak terdiagnosa ketika dia masih anak-anak, kata Linda Walker, seorang terapis ADHD.

 

"Kita sebagai manusia sangat tidak empati," kata Walker. Dia mengatakan, sulit bagi orang-orang yang tidak memiliki ADHD untuk memahami seseorang dengan ADHD.

 

Walker mengatakan dia belajar melalui pengalaman sejak menikah dengan Gordon. "Ketika Anda hidup dengan orang yang memiliki ADHD, Anda menyadari bahwa tidak ada satupun di Bumi yang akan membuat Anda berusaha begitu keras, namun gagal lagi dan lagi."

 

Gordon didiagnosa pada awal usia 30-an, ketika mereka sedang mencari bantuan untuk putri mereka. Dia mengalami banyak kesulitan fokus di sekolah. Lalu, suami-istri Gordon mulai belajar tentang ADHD dan segera menemukan kedua putrinya memiliki kondisi yang sama seperti ayahnya.

 

Terry Matlen, MSW, adalah seorang terapis yang mengkhususkan diri pada orang dewasa dengan ADHD, terutama perempuan. Dia juga memiliki ADHD, diagnosa datang setelah putrinya didiagnosa ADHD. ADHD cenderung menurun dalam keluarga.

 

Matlen menjelaskan bagaimana rasanya memiliki gangguan ADHD. "Rasanya seperti Anda sedang diserang di semua bidang kehidupan Anda sehari-hari - seperti suara, lampu, dan hal-hal sensorik lain yang tidak mengganggu orang lain, bisa mengganggu Anda," Matlen adalah penulis buku Survival Tips for Women with ADHD."

 

Matlen mengatakan, karena ADHD, dia sempat merasa ada sesuatu yang salah dengan harga dirinya, "Seperti, apa yang salah dengan saya? Ada orang-orang dengan lima anak bisa memikul semua tanggung jawab mengurus keluarga. Mengapa saya tidak bisa melakukannya dengan dua anak? Apakah saya bodoh? Apakah saya tidak kompeten?"

 

Dia ingin orang lain dengan ADHD untuk memahami apa yang sekarang dia tahu: "Anda tidak rusak, Anda tidak perlu putus asa, Anda hanya perlu bantuan ekstra."

 

Karen Thompson adalah konseptor bisnis di Atlanta yang meminta bantuan medis saat usianya 30-an. "Orang-orang mengatakan saya seperti tidak punya filter, saya akan melompat dari satu subjek pembicaraan ke subjek lain dan saya memiliki banyak pikiran di kepala saya."

 

Seorang psikiater mendiagnosanya memiliki ADHD dan memintanya mengonsumsi obat, yang membantunya tenang tetapi juga membuatnya sering mengantuk dan mual.

 

Jadi, dia mencoba untuk mengendalikan ADHD nya dengan cara lain, seperti bekerja dan berlatih yoga.

 

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X