Kompas.com - 26/04/2016, 08:01 WIB
Ilustrasi timbunan sampah plastik ThinkstockIlustrasi timbunan sampah plastik
|
EditorLatief


KOMPAS.com –
 Penggunaan plastik amat lekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain kemasan, plastik kerap dipakai sebagai material dasar kebutuhan gedung, elektronik, perabotan rumah tangga, atau pakaian.

Sayangnya, plastik juga punya dampak tak baik, terutama buat lingkungan. Pasalnya, bahan plastik sulit diurai.

Penelitian di Universitas Leicester, Inggris, memberi kesimpulan bahwa penggunaan plastik dalam beragam kegiatan manusia akan membuat Bumi terlapisi plastik dalam 50 tahun ke depan.

Bayangkan, setiap tiga tahun, manusia menghasilkan hampir 1 miliar ton plastik—yang terbuat dari polietilen (turunan minyak bumi).

"Dengan tren penggunaan itu, plastik dapat terfosilisasi sampai jauh ke masa depan," ujar Guru Besar Paleobiologi Universitas Leicester Jan Zalasiewicz, seperti dikutip Harian Kompas pada Jumat (29/1/2016).

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Anthropocene pada 2013. Isinya mengingatkan bahwa penggunaan berlebihan plastik—bahan bersifat lembam dan sulit terurai—memberi dampak geologi yang serius.

Thinkstock/Milkare Ilustrasi sampah plastik

Masih menurut penelitian tersebut, plastik bisa melapisi bumi, menjadi bagian tak terurai di dalam tanah, dan sering pula berakhir di laut. Bila sudah sampai dasar laut, plastik akan lebih sulit lagi untuk diurai. Kondisi bawah laut yang gelap, dingin, dan minim oksigen semakin menyulitkan proses penguraian plastik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Secara global, laporan terbaru Program Lingkungan PBB (UNEP) pada 2014 mencatat, setiap tahun ada 20 juta ton plastik yang berakhir di laut. Riset tersebut disusul pula oleh penelitian yang Jenna R Jambeck dan kawan-kawan pada 2015, yang menambahkan data bahwa Indonesia ada di posisi kedua penyumbang terbanyak sampah plastik ke laut, di bawah China.

Dengan fakta itu, laut bisa menjadi keranjang sampah raksasa yang berbahaya bagi biota di dalamnya. Plankton, ikan, dan burung-burung laut, misalnya, akan rawan pula mengonsumsi sampah plastik itu. Fakta akan semakin buruk bila keberadaan sampah plastik terlanjur masuk ke rantai makanan karena kondisi itu.

Mengurangi plastik

Pada 2009, riset Greeneration—organisasi non-pemerintah yang mengikuti isu sampah di Indonesia—menyatakan bahwa satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun.

Bila diakumulasi, ada lebih dari 100 miliar kantong plastik—yang menghabiskan 12 juta barrel minyak bumi—digunakan masyarakat Indonesia dalam satu tahun. (Baca: Kenyataan, Hidup Kita Dikelilingi Plastik...)

Thinkstock Ilustrasi sampah plastik.

Ya, bila setiap orang tidak mengubah perilaku, plastik benar-benar akan menjadi fosil masa depan. Amerika Serikat sudah lebih dulu menyadari itu. Karena itulah, sejak 2014 negara Paman Sam itu menerapkan larangan penggunaan plastik di toko-toko besar.

Lalu, langkah serupa dilakukan Inggris pada 2015. Negara ini memberlakukan plastik berbayar di toko-toko, dengan banderol 5 pence per kantong, setara kurang lebih Rp 1.000. Hasilnya, kebijakan ini menurunkan penggunaan plastik hingga 80 persen di Wales.

Nah, kebijakan plastik berbayar juga mulai diterapkan di Indonesia. Sejak 21 Februari 2016, pemerintah memberlakukan kebijakan kantung plastik berbayar. Uji coba dilakukan selama kurang lebih tiga bulan sampai 5 Juni 2016.

Bentuk kebijakan itu, masyarakat wajib membayar Rp 200 per kantong plastik saat berbelanja di toko ritel. Tercatat, ada 22 kota di seluruh Indonesia yang sudah berpartisipasi dalam uji coba per tanggal itu. (Baca: Di Kota Mana Saja Bon Belanja "Ketambahan" Harga Kantong Keresek?).

Tentu, kewajiban tersebut tak berlaku untuk orang yang membawa kantong belanja sendiri. Meski secara nominal tambahan harga untuk kantong plastik—bahkan saat diakumulasi selama setahun—tidak besar, membawa sendiri kantong atau tas setiap kali berbelanja semestinya bisa dimulai memakai momentum kebijakan plastik berbayar.

Kalau besaran nominal tak menjadi gangguan bagi Anda agar beralih ke kebiasaan membawa sendiri kantong atau tas belanja, coba ingat-ingat saja dampak yang mungkin timbul bagi Bumi dan anak cucu kita—penghuni planet—akibat penggunaan bahan sulit terurai tersebut. Riset-riset di atas bisa menjadi rujukan.

Jangan sampai, amit-amit, generasi mendatang harus bersusah payah memilah makanan bebas kandungan plastik dari setiap jenis bahan makanan yang ada di Bumi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.