Kompas.com - 02/04/2016, 20:37 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorWisnu Nugroho

Beberapa tahun belakangan ini saya diajak bergabung dengan komunitas wartawan senior yang sebagian besar adalah mantan wartawan Kantor Berita Antara. Pada umumnya mereka adalah sahabat almarhum ayah dan ibu saya, yang tentu saja usia mereka sudah tidak muda lagi.

Mereka sudah masuk golongan octogenarian (berusia di sekitar 80-an tahun), walau banyak juga beberapa yang turut bergabung yang masih berusia lebih muda dari itu.

Yang istimewa adalah satu di antaranya pada bulan April ini akan memasuki usia ke-99 tahun. Sangat luar biasa, karena bila Tuhan mengijinkan, Insya Allah maka itu berarti beliau akan memasuki usia 100 tahun pada tahun depan.

Beliau masih sehat walau sudah berada di kursi roda, terlihat bahagia hidupnya yang terpancar dari sinar mata dan air mukanya yang sangat bersahabat sekaligus memancarkan semangat hidup yang sama sekali belum redup dimakan usia.

Ingatannya masih sangat baik dan kemampuan berkomunikasinya masih prima yang bahkan terkadang kerap menggunakan bahasa Belanda, bahasa yang memang digunakan oleh generasi ayah dan ibu saya sebagai bahasa sehari-hari.

Tidak semua orang berkesempatan dapat hidup bahagia hingga usia yang menjelang 100 tahun. Lalu apa sebenarnya kunci dari menjalani hidup ini agar dapat tetap bahagia dan sehat dengan usia yang panjang.

Untuk membahas ini, saya ingin menggarisbawahi beberapa catatan psikiater yang juga Direktur Harvard Study of Adult Development bernama Robert Waldinger. Studi ini menjadi sangat menarik karena merupakan penelitian terpanjang yang pernah dilakukan dalam hitungan waktu (dimulai tahun 1938 dan hingga saat ini masih berlanjut) dan juga terlengkap dalam aspek penelitian tentang bagaimana dan mengapa orang bisa mencapai kebahagiaan dan umur panjang dalam perjalanan hidupnya.

Robert Waldinger, direktur yang ke-4 dalam perjalanan studi ini, mengatakan, dari hasil penelitian yang telah berlangsung selama 75 tahun itu menunjukkan satu bukti, "Good relationships keep us happier and healthier”. Hubungan baik akan membuat seseorang menjadi lebih bahagia dan lebih sehat.

Studi ini pada awalnya melibatkan 724 orang di tahun 1938 dan kini masih ada lebih dari 60 orang dengan usia di sekitar 90 tahun yang masih hidup dan masih terus menjalani penelitian.

Studi ini bahkan tengah melanjutkan penelitian terhadap 2000 anak-anak yang berasal dari 724 orang tersebut. Orang yang memiliki hubungan sosial yang baik dalam keluarga, dengan teman dekat dan dengan komunitas ternyata membuat mereka lebih bahagia dan lebih sehat serta panjang umur.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengenal Lintah, Hewan Parasit Pengisap Darah

Mengenal Lintah, Hewan Parasit Pengisap Darah

Oh Begitu
Ikan Siput Ini Tidak Beku Meski Berenang di Perairan Sangat Dingin, Apa Rahasianya?

Ikan Siput Ini Tidak Beku Meski Berenang di Perairan Sangat Dingin, Apa Rahasianya?

Fenomena
Di Mana Teks Proklamasi yang Menandai Kemerdekaan Indonesia Pertama Kali Dibacakan?

Di Mana Teks Proklamasi yang Menandai Kemerdekaan Indonesia Pertama Kali Dibacakan?

Oh Begitu
3 Cara Menghindari Gigitan Lintah saat Beraktivitas di Luar Ruangan

3 Cara Menghindari Gigitan Lintah saat Beraktivitas di Luar Ruangan

Kita
Burung Pemakan Buah Paling Awal di Bumi, Seperti Apa?

Burung Pemakan Buah Paling Awal di Bumi, Seperti Apa?

Fenomena
Cerita di Balik Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Ini Sejarahnya

Cerita di Balik Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Ini Sejarahnya

Oh Begitu
Hari Kemerdekaan Ke-77 RI, Sejarah Teks Proklamasi yang Dibacakan Soekarno

Hari Kemerdekaan Ke-77 RI, Sejarah Teks Proklamasi yang Dibacakan Soekarno

Oh Begitu
Lomba 17 Agustus Sering Bikin Cedera, Ini Pesan Dokter untuk Menghindari Cedera

Lomba 17 Agustus Sering Bikin Cedera, Ini Pesan Dokter untuk Menghindari Cedera

Oh Begitu
Bunga Bangkai Mekar di Bekasi Sejenis Suweg, Tanaman Apa Itu?

Bunga Bangkai Mekar di Bekasi Sejenis Suweg, Tanaman Apa Itu?

Oh Begitu
Lapisan Es Antartika Meleleh Lebih Cepat, Begini Penampakannya

Lapisan Es Antartika Meleleh Lebih Cepat, Begini Penampakannya

Fenomena
Bagaimana Dinosaurus Mampu Menopang Tubuh Raksasanya?

Bagaimana Dinosaurus Mampu Menopang Tubuh Raksasanya?

Fenomena
Apakah Gigitan Lintah Berbahaya?

Apakah Gigitan Lintah Berbahaya?

Kita
Perubahan Iklim Perburuk Penyebaran Penyakit Menular pada Manusia

Perubahan Iklim Perburuk Penyebaran Penyakit Menular pada Manusia

Oh Begitu
Vaksin Baru Covid-19 Diklaim Bisa Lawan Dua Varian Virus Corona, Disetujui di Inggris

Vaksin Baru Covid-19 Diklaim Bisa Lawan Dua Varian Virus Corona, Disetujui di Inggris

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Belalang Bisa Mencium Sel Kanker Manusia | Virus Cacar Monyet Ditemukan pada Sampel Dubur | Ancaman Jakarta Tenggelam

[POPULER SAINS] Belalang Bisa Mencium Sel Kanker Manusia | Virus Cacar Monyet Ditemukan pada Sampel Dubur | Ancaman Jakarta Tenggelam

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.