Kompas.com - 31/03/2016, 07:30 WIB
Rekosntruksi wajah manusia Flores atau The Hobbit. Susan Haves/University of WollongongRekosntruksi wajah manusia Flores atau The Hobbit.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Sungguh misterius, Homo floresiensis punah bersama hewan-hewan yang hidup di lokasi yang sama. Ilmuwan belum mampu menjelaskannya dengan pasti.

Fakta bahwa spesies manusia yang kerap disebut The Hobbit itu punah bersama hewan lokal terungkap dalam publikasi tim ilmuwan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas), University of Wollongong, dan Smithsonian Institution.

Publikasi di jurnal Nature pada Rabu (30/3/2016) itu juga menyatakan bahwa Hobbit punah 50.000 tahun lalu, 38.000 tahun lebih awal dari yang diduga dalam hasil penelitian sebelumnya.

Matt Tocheri, co-author dalam publikasi itu, mengatakan, bersama Homo floresiensis, punah pula spesies yang hidup di sekitar Liang Bua, seperti burung pemakan bangkai, bangau Marabau raksasa, Stegodon pygmy (gajah purba mini), dan komodo.

"Banyak orang mungkin tertarik dengan fakta bahwa taxa itu hilang bersamaan, tetapi kenyataannya adalah sampai sekarang kita belum tahu sebabnya," kata Tochjeri dalam rilis yang bisa diakses di Scimex.org.

Tocheri menuturkan, yang jelas, Hobbit, Marabau raksasa, burung pemakan bangkai, dan komodo sama-sama membutuhkan makanan dalam jumlah banyak dan mangsa yang tersedia saat itu adalah gajah mini.

"Ketika gajah mini punah, makanan mereka habis. Itu perkiraan kami," ucapnya ketika ditemui harian Kompas pada Selasa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tocheri menuturkan, untuk mengungkap kepunahan bersama itu, perlu ada riset lanjutan lagi di Liang Bua dan wilayah lain di Flores.

Ilmuwan Indonesia juga terlibat dalam penelitian yang dipublikasikan kali ini. Thomas Sutikna yang juga berperan menemukan The Hobbit pada tahun 2003 lalu menjadi lead author.

Ilmuwan Indonesia lain yang terlibat adalah EW Saptomo, Jatmiko, Sri Wasisto, dan almarhum Rokus Due Awe. Riset juga melibatkan Max Aubert dan Adam Brumm yang berperan mengungkap adanya lukisan tertua di Maros, Sulawesi Selatan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tulang Kelelawar Vampir Raksasa Ditemukan di Gua Argentina

Tulang Kelelawar Vampir Raksasa Ditemukan di Gua Argentina

Oh Begitu
Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Oh Begitu
Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Kita
POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

Oh Begitu
Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Oh Begitu
Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Oh Begitu
Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Oh Begitu
Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Fenomena
Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Oh Begitu
Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Fenomena
Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Oh Begitu
Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Fenomena
Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Kita
Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X