Bangsring, Godaan Destinasi Pertobatan Laut

Kompas.com - 28/03/2016, 20:00 WIB
Pemandangan bawah laut perairan Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur. Ichwan SusantoPemandangan bawah laut perairan Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Desa Bangsring di Banyuwangi awalnya tak diperhitungkan dalam pengembangan destinasi wisata di ujung timur Pulau Jawa. Sejak setahun terakhir, wisatawan berdatangan ingin menyaksikan hasil pertobatan wilayah desa pengebom terumbu karang menjadi pelestari yang militan.

Di awal libur panjang Paskah ini, rombongan wartawan, didampingi instruktur selam dari Komando Pasukan Katak Komando Armada RI Kawasan Timur berlatih selam di Bangsring dalam kegiatan Xplore Biota Laut. Sesuai tema acara, kami tidak hanya menambah jam selam, tetapi juga mencari tahu biota penghuni pantai bertekstur landai curam itu.

Obyek wisata itu agak tersembunyi. Ditempuh sekitar 30 menit dari Lapangan Terbang Belimbingsari, Banyuwangi, Jawa Timur. Tepatnya, lokasi itu terletak sekitar 5 kilometer dari arah kota atau obyek wisata Watudodol yang dikenal dengan penanda patung penari gandrung, tari tradisional setempat.

Setelah melewati SPBU Pertamina, kendaraan yang kami tumpangi melaju perlahan karena penanda Pantai Bangsring yang hanya berupa petunjuk bertuliskan Rumah Apung ZLB. Singkatan ZLB adalah zona lindung bersama karena warga pesisir setempat berkomitmen melindungi keberadaan laut dengan swadaya desa.

Sekitar 20 jurnalis dan kurang dari satu peleton anggota Kopaska menginap di empat tenda militer yang dibangun di tepi pantai. Kebutuhan makan siang-malam hampir selalu mengandalkan katering dari warga setempat.

Saat hendak menceburkan diri ke air, saya sempat mengira lokasi penyelaman akan gitu-gitu aja. Apalagi, saat pengenalan, Ikhwan Arief, pimpinan Bangsring Underwater, lembaga pengelola wisata milik warga setempat di Bangsring, mengatakan, hasil studi Pelangi (2008) menunjukkan, lebih dari 80 persen terumbu karang di daerah itu rusak.

Kondisi itu termasuk rusak berat menurut kriteria Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Namun, setelah menjejakkan fin atau sepatu katak melintasi pantai yang hitam menuju laut dan mencelupkan goggle mask ke dalam air, suguhan pemandangan alam bawah laut pun menggoda mata.

Di dalam perairan yang jernih di pagi hari menunjukkan titik-titik perbaikan terumbu karang yang menggembirakan. Karang-karang akropora dengan beragam jenis ikan menjadi sambutan cukup menggembirakan. Apalagi, mengingat daerah itu pernah menjadi sasaran warga setempat yang mengebom ataupun menggunakan apotas untuk menangkap ikan ataupun mencungkil karang.

Jika diamati lebih rinci, di permukaan rumah karang itu ternyata juga dihinggapi biota-biota lain yang tak kalah eksotis. Sebut saja kelinci laut berwarna putih (Nudibranch) dan ikan scorpion atau lepu yang tampak berdiam di atas karang meski didekati penyelam.

Saya sempat menjumpai karang meja atau karang jenis acropora tabulate bertingkat dengan diameter sekitar 1 meter pada lapisan bawah dan lapisan atasnya masih kecil. Biasanya, karang jenis itu amat rentan patah atau ambruk jika terinjak.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X