Eksperimen Siswa Indonesia Dikirim ke Antariksa Hari Ini

Kompas.com - 23/03/2016, 17:32 WIB
Orbital Cygnus diluncurkan dengan Atlas 5 pada Rabu (23/3/2016) pukul 11.05 WIB dari Cape Canaveral, Amerika Serikat. ULAOrbital Cygnus diluncurkan dengan Atlas 5 pada Rabu (23/3/2016) pukul 11.05 WIB dari Cape Canaveral, Amerika Serikat.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Rabu (23/3/2016) pukul 11.05 WIB, dua eksperimen siswa Indonesia diluncurkan ke antariksa dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat.

Perangkat eksperimen tersebut dibawa dengan Cygnus Cargo Freighter di atas roket Atlas 5 menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Salah satu eksperimen yang dibawa ke antariksa dibuat oleh siswa-siswa SMA Unggul Del di Lagubotti, Samosir, Sumatera Utara.

Tim siswa sekolah tersebut ingin mengetahui pertumbuhan ragi di antariksa, mengetahui apakah ada perbedaan dengan di muka bumi.

"Ini merupakan eksperimen pendahuluan sebelum meluncurkan eksperimen berikutnya untuk mempelajari how to grow tempe in space," kata JW Saputro yang memimpin proyek pelibatan siswa Indonesia dalam riset antariksa ini.

Satu eksperimen lain yang dikirim ke antariksa berasal dari tim siswa Jakarta dan Bandung. Eksperimen itu untuk mengetahui pertumbuhan padi di antariksa.

Setelah sampai ke antariksa, perangkat eksperimen akan dipindahkan ke Nanoracks, fasilitas penelitian milik United States National Lab di ISS.

Perangkat eksperimen yang dirancang oleh siswa-siswa Indonesia dilengkapi dengan kamera digital dan pengontrol mikro sehingga pertumbuhan padi dan ragi bisa diamati dari wilayah mana pun di bumi yang terhubung internet.

Beberapa hari setelah peluncuran ini, tim siswa akan mulai melakukan pengamatan. Caranya ialah dengan mengunduh foto-foto perkembangan eksperimen yang dikirim langsung dari ISS.

Tim siswa akan mempresentasikan hasil penelitian di Annual Conference of the American Society for Gravitational and Space Research di Washington DC dalam bulan November 2016.

Perangkat eksperimen dari siswa Indonesia diluncurkan bersama sejumlah perangkat canggih lainnya milik NASA, Badan Antariksa Kanada, Badan Antariksa Eropa (ESA), serta Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAEA).

Jepang, misalnya, menyertakan alat sentrifugasi guna mempelajari biologi sel pada kondisi nir-gravitasi. Sementara itu, ESA mengirimkan perangkat ENERGY untuk mempelajari kebutuhan energi bagi astronot untuk perjalanan antariksa jangka panjang.

NASA mengirimkan perangkat eksperimen penting bernama Spacecraft Fire Experiment I (SAFFIRE). Perangkat itu akan mempelajari pembentukan api.

Di situs webnya, NASA menyatakan bahwa riset itu penting untuk mempelajari pola pembentukan api di kondisi nir-gravitasi sehingga berguna bagi perjalanan antariksa masa mendatang.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X