Ternyata, Gedung di Jakarta Lebih Boros Listrik daripada Jepang

Kompas.com - 22/03/2016, 07:46 WIB
Jumlah konsumsi energi di Jakarta lebih besar daripada di Jepang. ThinkstockJumlah konsumsi energi di Jakarta lebih besar daripada di Jepang.
|
EditorPalupi Annisa Auliani

KOMPAS.com – Karyawan Jepang boleh dibilang bergembira hati setiap menjelang musim panas. Pasalnya, mereka diizinkan mengganti pakaian kerja formal dengan baju kasual, seperti kaus dan celana olahraga, bahkan boleh bekerja dari rumah. Namun, mereka bukan hendak bersantai.

Kebijakan soal pakaian dan cara kerja tersebut, seperti dilansir National Geographic, dilakukan terkait kebijakan penghematan energi Negeri Sakura. Perusahaan diminta menaikkan suhu pendingin udara (AC) perkantoran menjadi 28 derajat Celsius untuk meminimalisir pemakaian listrik.

Langkah tersebut bisa mengurangi penggunaan listrik perusahaan dalam kisaran 15 persen sampai 20 persen. Tak hanya di kantor, Pemerintah Jepang juga mengimbau warga melakukan hal yang sama, karena setiap kenaikan 1 derajat Celcius suhu AC akan mengurangi 3 persen sampai 5 persen pemakaian listrik.

Menurut Japan International Cooperation Agency (JICA), konsumsi listrik di Jepang pada 2009 rata-rata penggunaan listrik di rumah sakit adalah 175 kilo Watt per jam (kWh) per meter persegi (m2). Adapun untuk mal, rata-rata pemakaian listrik adalah 225 kWh/m2, sementara hotel 160 kWh/m2, dan kantor 140 kWh/m2.

Angka rata-rata pemakaian listrik tersebut jauh lebih kecil dibandingkan penggunaan di Jakarta. International Finance Corporation (IFC) melaporkan pada 2011, rumah sakit di Ibu Kota rata-rata menggunakan listrik sebanyak 270 kWh/ m2, mal 297 kWh/m2, hotel 293 kWh/m2, dan kantor 240 kWh/m2.

“(Besarnya) konsumsi energi banyak terjadi karena ada penyalahgunaan bangunan di kota besar, termasuk Jakarta,” kata Pendiri Green Building Council Indonesia (GBCI) Rana Yusuf Nasir, dalam acara Solution World Schneider Electric, Rabu (16/3/2015). “(Misalnya), dalam satu kompleks, ada kantor, mal, dan apartemen,” sebut dia.

Pada umumnya, ungkap Rana, pemakaian listrik di suatu lokasi akan sama dengan kapasitas daya terpasang. Namun, dalam kasus kompleks berisi banyak peruntukan gedung di atas, ada kondisi idle power yang seharusnya bisa dibagi ke lebih banyak pengguna tetapi malah terkonsentrasi ke satu lokasi.

“Badan Pengajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pernah meneliti, ada salah satu penyalahgunaan kompleks gedung di Jakarta yang memasang daya (listrik) lebih besar daripada (kapasitas) daya terpasang untuk satu Kota Wonosobo, Jawa Tengah,” ungkap Rana.

Wajib berhemat

Secara global, bangunan menghabiskan sekitar 40 persen energi dan sumber daya dunia. Fakta tersebut membuat gedung sebagai salah satu pengguna energi terbesar. Karena itu, sudah selayaknya bila penghematan energi dimulai dari kompleks gedung. (Baca: Bumi Makin Panas, Ramalan Kiamat Bukan Omong Kosong!)

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X