Berkat Muhandis Shiddiq, Komputer Kuantum Lebih Dekat dengan Kenyataan

Kompas.com - 21/03/2016, 22:03 WIB
Muhandis Shiddiq, ilmuwan Indonesia yang kini menjadi peneliti post-doktoral di Universitas Teknik Dortmund, Jerman. Muhandis Shiddiq via FacebookMuhandis Shiddiq, ilmuwan Indonesia yang kini menjadi peneliti post-doktoral di Universitas Teknik Dortmund, Jerman.
|
EditorTri Wahono

KOMPAS.com — Bayangkan diri Anda berada dalam situasi ini. Anda tak punya waktu untuk membeli barang langsung ke toko. Anda lalu memutuskan untuk membeli secara daring menggunakan kartu kredit. Pembelian berhasil.

Namun, pada akhir bulan, Anda mengetahui bahwa tagihan kartu kredit bengkak. Ternyata, ada yang menyalahgunakan kartu kredit Anda. Itu bermula dari transaksi daring tak aman.

Bagaimana perasaan Anda? Kesal bukan?

Situasi itu menggambarkan apa yang mungkin kita hadapi di tengah teknologi saat ini. Satu sisi, kehidupan kita dipermudah karena ada pengetahuan dan teknologi untuk transaksi daring.

Namun, di sisi lain, aplikasi teknologi tersebut kadang masih kurang didukung dengan keamanan. Akhirnya, kita berada dalam situasi yang tetap waswas dan takut.

Situasi itu akan berubah ketika komputer kuantum menjadi kenyataan.

Komputer kuantum memudahkan menyelesaikan kombinasi terumit dengan lebih baik. Misalnya, kode enkripsi akan lebih cepat dibuka dan lebih aman. Transaksi daring tak akan lagi berujung pada bobolnya kartu kredit.

Kabar gembiranya, Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam upaya mewujudkan komputer kuantum menjadi kenyataan.

Muhandis Shiddiq, ilmuwan Indonesia yang kini menjadi peneliti post-doktoral di Universitas Teknik Dortmund di Jerman, berhasil membuat satu langkah maju menuju terwujudnya komputer kuantum.

Lewat penelitiannya, ia berhasil menciptakan kondisi yang memungkinkan komputer kuantum bekerja selama 8,4 mikrodetik.

Hasil risetnya dipublikasikan di jurnal Nature pada Jumat (18/3/2016) lalu.

Riset dilakukan bersama sejumlah fisikawan dan kimiawan, yaitu Dorsa Komijani yang merupakan mahasiswa Florida State University (FSU) dan Stephen Hill yang merupakan Direktur Electron Magnetic Resonance (EMR) di Maglab, FSU.

Kimiawan yang terlibat adalah Yan Duan, Alejandro Gaita-Ariño, dan Eugenio Coronado dari Institute of Molecular Science di Valencia, Spanyol.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X