Wisnubrata
Assistant Managing Editor Kompas.com.

Wartawan, penggemar olahraga, penyuka seni dan kebudayaan, pecinta keluarga

Kisah Mereka yang Menelan Matahari

Kompas.com - 08/03/2016, 20:26 WIB
Kolase foto gerhana pada 22 Juli 2009, selang waktu dari foto terkiri sampai terkanan sekitar dua setengah jam. Foto diambil dari dilihat Kota Chongqing, China. Arsip Agatha Bunanta, pernah dimua di harian Kompas, 4/8/2009. 
Agatha BunantaKolase foto gerhana pada 22 Juli 2009, selang waktu dari foto terkiri sampai terkanan sekitar dua setengah jam. Foto diambil dari dilihat Kota Chongqing, China. Arsip Agatha Bunanta, pernah dimua di harian Kompas, 4/8/2009.
EditorWisnubrata

Sebelum Masehi, ilmuwan Babilonia bahkan sudah bisa meramalkan terjadinya gerhana dengan mengamati gerakan bulan dan matahari.

Kini, gerhana adalah peristiwa alam yang bisa dijelaskan dengan gamblang oleh ilmu pengetahuan. Peneliti sudah dapat meramalkan terjadinya gerhana dan durasinya, hingga hitungan detik. Ilmuwan bahkan memanfaatkan gerhana untuk membuktikan teori-teori lain di alam semesta.

Lalu, apakah cerita soal raksasa dan naga menjadi tidak relevan? Jawabannya tentu tergantung pandangan tiap-tiap orang dan dari sudut mana jawaban akan ditarik.

Secara budaya, cerita naga dan raksasa kini hadir dalam bentuk seni dan festival. Beragam pesta di seputaran momentum gerhana pun digelar di beberapa daerah.

Di Palembang, Sumatera Selatan, misalnya, gerhana bakal disambut dengan tari-tarian dan melibatkan lampion naga sepanjang 18 meter.

Sebanyak 20 siswa SMKN 7 Palembang membuat lampion naga sebagai bagian dari tarian kolosal Naga Memakan Matahari saat puncak gerhana matahari total.

Masyarakat dayak di Kalimantan Tengah menyambut gerhana dengan menabuh aneka alat musik. Saat kegelapan total terjadi, 55 kentongan atau disebut salakatok akan ditabuh agar kegelapan berakhir, dan hal negatif dijauhkan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, masih banyak kegiatan budaya lain terkait gerhana yang disajikan berdasarkan mitos dan cerita rakyat. Artinya, secara budaya, mitos itu masih relevan.

Mengenai hal itu, budayawan Sujiwo Tejo dalam akun Twitter-nya, @sudjiwotedjo, menuliskan, "Fenomena geometris gerhana matahari diterima, tetapi lakon matahari dimakan Batara Kala tetap diperlukan sebagai bumbu."

Rupanya, pada era modern, kisah dan simbol itu masih memiliki daya pikat untuk menjadi sumber inspirasi dan kreasi hiburan terkini. Mitos tidak akan lekang oleh waktu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.