Kompas.com - 04/03/2016, 08:03 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorWisnubrata
Pada setiap terjadinya kecelakaan pesawat terbang, semua orang akan segera bertanya, apa gerangan yang menjadi penyebabnya.  

Sebagai produk dari sebuah hasil teknologi mutakhir, konon pesawat terbang adalah moda transportasi yang paling aman di dunia. Masalahnya adalah mengapa kecelakaan kerap terjadi juga?  

Mungkin tidak begitu banyak yang memahami bahwa pada setiap produk teknologi mutakhir ada sebuah mekanisme yang harus dikerjakan dalam pengoperasiannya. Mekanisme yang tidak bisa ditawar-tawar atau di kompromikan sekecil apapun.  

Itu sebabnya maka dalam dunia penerbangan tuntutan akan kepatuhan terhadap aturan ketentuan regulasi dan prosedur tidak mengenal kompromi. 

Begitu ada ketentuan, prosedur atau regulasi yang dilanggar, maka hal itu sudah cukup memberikan peluang besar bagi datangnya musibah alias kecelakaan yang sangat tidak kita inginkan.

Untuk menjelaskan tentang hal ini, maka dapat diuraikan sebuah contoh dari kecelakaan Air Asia yang terjadi beberapa waktu yang lalu.  

Di awal saat terjadinya kecelakaan, karena lokasi dan waktu itu memang sedang berada dalam keadaan cuaca yang kurang bagus, maka dengan cepat berkembang persepsi bahwa kecelakaan terjadi karena faktor cuaca.  

Satu kesimpulan yang dikenal sebagai kesimpulan yang “jump to conclusion”. Karena pada hakikatnya sebuah kecelakaan pesawat terbang tidak akan pernah diketahui apa yang menjadi penyebabnya, sebelum proses investigasi selesai dilakukan.  

Pada pengumuman resmi dari KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) tanggal 1 Desember 2015 yang lalu, kemudian disebutkan secara gamblang bahwa komponen yang cacat merupakan faktor utama penyebab kecelakaan pesawat terbang Air Asia.  

Dalam uraian lainnya disebutkan bahwa dalam investigasi kecelakaan pesawat terbang Air Asia QZ8501, KNKT menemukan adanya kerusakan berulang pada Rudder Travel Limiter (RTL), bagian dari alat kemudi pesawat. 

Bahkan tercatat, 23 kerusakan sepanjang Januari-Desember 2014. Sistem perawatan pesawat di Air Asia ternyata belum memanfaatkan Post Flight Report (PFR) secara optimal, sehingga gangguan pada RTL yang berulang tidak terselesaikan secara tuntas.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.