Kompas.com - 01/03/2016, 21:08 WIB
Sejumlah anak-anak mengantre menggunakan kacamata khusus untuk melihat gerhana saat pengamatan peristiwa gerhana matahari cincin terlihat jelas di Lapangan Sepakbola Universitas Lampung (Unila), Bandar Lampung, Lampung, Senin (26/1/2009). KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHOSejumlah anak-anak mengantre menggunakan kacamata khusus untuk melihat gerhana saat pengamatan peristiwa gerhana matahari cincin terlihat jelas di Lapangan Sepakbola Universitas Lampung (Unila), Bandar Lampung, Lampung, Senin (26/1/2009).
|
EditorAmir Sodikin

KOMPAS.com — Fenomena gerhana matahari total yang akan berlangsung pada tanggal 9 Maret 2016 mendatang memang sayang untuk dilewatkan. Peristiwa di angkasa yang jarang terjadi ini bisa dinikmati di Indonesia karena hanya daratan negeri ini yang dilalui oleh jalur gerhana matahari yang berlangsung pada pagi hari.

Namun, patut diingat bahwa memandang gerhana matahari dengan mata telanjang juga memiliki risiko serius yang harus dipahami sebelumnya.

Semua tidak lepas dari sinar matahari yang ditatap secara langsung dalam waktu lama bisa menyebabkan kerusakan pada retina mata dengan nama solar retinopathy. Tanda-tandanya adalah titik hitam yang selalu terlihat dalam pandangan mata, ke mana pun dia menengok. Kerusakan tersebut akan sulit dipulihkan.

Kerusakan tersebut terjadi saat gerhana karena mata yang memandang matahari saat terjadi gerhana total layaknya melihat dalam kegelapan, kelopak mata membuka, dan pupil melebar untuk menangkap cahaya sebanyak mungkin.

Petaka justru terjadi saat piringan bulan setelah fase totalitas tidak disadari pengamat dan mata mereka dengan kondisi seperti melihat di kegelapan akan terpapar sinar ultraviolet yang berbahaya bagi mata.

Bisa disimpulkan bahwa ini salah satu dasar pertimbangan munculnya keputusan pemerintah yang melarang warganya menyaksikan gerhana matahari total pada 11 Juni 1983.

Instruksi saat itu adalah menutup semua lubang dan kaca di rumah yang dikhawatirkan bisa ditembus sinar matahari hingga menyebabkan sebagian warga bersembunyi ketakutan di bawah meja.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penjelasan lebih detail mengenai kaitan memandang gerhana dan kesehatan mata akan diturunkan dalam reportase yang disusun wartawan harian Kompas, Adhitya Ramadhan, yang akan dimuat pada Rabu (2/3/2016), mulai dari penjelasan mengenai reaksi mata terhadap gerhana hingga manfaat menggunakan kacamata khusus untuk melihat gerhana.

Terkait instruksi pemerintah tahun 1983, Litbang Kompas ternyata menemukan hasil yang cukup mengkhawatirkan akan dampaknya di masyarakat hingga kini. Baca lebih lengkap ulasannya besok di harian Kompas.

Bagi yang belum berlangganan, silakan kunjungi http://kiosk.kompas.com. Harian Kompas juga bisa diakses via e-paper di http://epaper.kompas.com. Selain itu juga bisa dinikmati versi webnya di http://print.kompas.com

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.