Risiko yang Bisa Terjadi jika Anda Melakukan Aborsi

Kompas.com - 26/02/2016, 09:03 WIB
Ilustrasi. Ilustrasi.
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Tidak ada prosedur klinis yang 100 persen bebas risiko. Begitu juga dengan aborsi. Aborsi dapat menimbulkan beberapa risiko, terutama jika dilakukan pada 12 minggu pertama kehamilan.

Risiko pada saat aborsi

Ada sejumlah risiko yang bisa saja terjadi selama prosedur aborsi, misalnya:
- Haemorrhage (pendarahan yang banyak) terjadi pada sekitar satu dari 1.000 aborsi.

- Kerusakan mulut rahim, terjadi pada tidak lebih dari 10 per 1.009 aborsi.

- Kerusakan rahim, terjadi pada sekitar empat dari 1.000 aborsi bedah (surgical abortiin) dan satu dari 1.000 aborsi medikal pada usia kehamilan 12-24 minggu.

Risiko setelah aborsi
Risiko yang paling sering terjadi setelah prosedur aborsi adalah infeksi rahim. Infeksi ini biasa terjadi karena pengeluaran janin dan jaringan yang tidak bersih atau tuntas atau wanita yang bersangkutan kurang menjaga kebersihan.

Anda bisa mengurangi risiko infeksi dengan cara memakai sanitary pad yang bersih sampai pendarahan berhenti. Tidak disarankan pemakaian tampon. Anda juga tidak disarankan melakukan hubungan seks selama dua minggu setelah aborsi atau sampai pendarahan selesai.

Jika terjadi infeksi, Anda akan mengalami pendarahan berat dari vagina dan nyeri seperti saat menstruasi. Biasanya, antibiotik digunakan untuk mengatasi infeksi.

Jika infeksi tidak diobati, dapat menjadi infeksi parah di organ reproduksi, misalnya pelvic inflammatory disease (PID) yang dapat menyebabkan infertilitas dan kehamilan ektopik. Risiko infeksi juga bisa dikurangi dengan mengonsumsi antibiotik saat prosedur aborsi.

Risiko-risiko di atas bisa meningkat jika prosedur aborsi dilakukan tidak sesuai ketentuan medis. Hal ini banyak dikhawatirkan terjadi di klinik-klinik aborsi ilegal.

Aborsi berulang dapat menyebabkan kerusakan leher rahim dan risiko keguguran.

Setelah aborsi, mungkin Anda akan mengalami nyeri mirip nyeri menstruasi selama beberapa waktu dan pendarahan dari vagina yang volumenya meningkat setelah beberapa hari. Banyak wanita yang dapat langsung beraktivitas sehari setelah aborsi.

Anda dianjurkan mencari pertolongan medis jika pada pasca aborsi mengalami:
- Nyeri hebat
- Pendarahan hebat
- Pendarahan tidak berhenti setelah 14 hari.

Di negara kita, aborsi hanya diizinkan jika ada alasan medis yang kuat. Berkonsultasilah kepada dokter atau institusi kesehatan yang tepercaya sebelum memutuskan untuk aborsi atau jika Anda mengalami gangguan fisik dan/atau emosi setelah melakukan aborsi.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X