Gerhana Memperbaiki Data Hisab

Kompas.com - 23/02/2016, 21:06 WIB
Lajnah Falakiyah NU Kabupaten Gresik dan warga melihat proses pengamatan terjadinya gerhana matahari cincin di Masjid Agung Jawa Tengah, Kota Semarang, tahun 2010. KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASALajnah Falakiyah NU Kabupaten Gresik dan warga melihat proses pengamatan terjadinya gerhana matahari cincin di Masjid Agung Jawa Tengah, Kota Semarang, tahun 2010.
|
EditorWisnu Nugroho
KOMPAS.com - Peristiwa gerhana matahari yang akan terjadi di Indonesia pada tanggal 9 Maret 2016 mendatang bukan saja dinanti oleh para astronom untuk berburu dan mempelajarinya.

Para ahli falak atau mereka yang hendak memahami perlintasan benda-benda di langit sebagai dasar untuk penentuan batas waktu, juga menantikan fenomena serupa untuk memeriksa ulang akurasi penanggalan hijriah yang mengandalkan perhitungan berdasarkan posisi bulan.


“Akurasi data hisab (perhitungan) sangat penting. Salah melakukan hisab terhadap posisi Bulan bisa menimbulkan kesalahan dalam pengambilan kesimpulan untuk menentukan awal bulan dalam kalender,” kata anggota Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Pengurus Besar NU Hendro Setianto, Sabtu (20/2).

Dalam ilmu falak, gerhana matahari merupakan ijtimak yang terlihat. Ijtimak sendiri adalah kesegarisan matahari, bulan, dan bumi dan dipakai sebagai penanda dimulainya fase bulan baru untuk menandai awal bulan pada kalender hijriah. Ketidakcermatan dalam pengamatan bisa berakibat pada kesalahan penentuan awal bulan dalam kalender atau posisi hilal.

Selengkapnya bisa dibaca dalam reportase Harian Kompas yang disusun oleh wartawan Harian Kompas Muchamad Zaid Wahyudi dan terbit, Rabu (24/2/16) besok. Tulisan akan mengulas mengenai peran gerhana bagi perbaikan data hisab atau perhitungan matematis untuk menentukan posisi bulan.

Tulisan lain yang hadir pada hari yang sama disusun bersama wartawan Harian Kompas Mawar Kusuma Wulan, dan Mohamad Hilmi Faiq akan menghadirkan perburuan gerhana oleh para komunitas astronomi baik amatir maupun fotografer yang menyerbu lokasi-lokasi pemantauan gerhana.

Bukan hanya peristiwa astronomi mengenai gerhana saja, ada banyak ilmuwan yang memanfaatkan momen tersebut untuk mempelajari hal-hal lain mulai aspek biologi terkait gerhana hingga matahari. Inilah satu momen yang bisa menyatukan mereka yang datang dari berbagai disiplin ilmu dan latar belakang.
----
Simak laporan menyambut Gerhana Matahari Total di harian Kompas edisi hari Rabu (24/2/2016), atau silakan berlangganan di http://kiosk.kompas.com dan baca versi e-papernya di http://epaper.kompas.com.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X