Kompas.com - 25/12/2015, 15:42 WIB
EditorTri Wahono

KOMPAS.com — Di film The Martian, ada adegan seorang astronot yang terdampar di Planet Mars dan mencoba untuk bertanam kentang untuk memenuhi pasokan makanannya.

Kini para ilmuwan NASA akan melakukan eksperimen serupa dengan menumbuhkan kentang di Planet Mars.

Eksperimen ini tidak hanya untuk mencari tahu apakah manusia akan bisa bercocok tanam di planet lain, tetapi juga mencari solusi untuk bertanam dalam kondisi yang sulit di Planet Bumi.

Penelitian yang akan dilakukan oleh International Centre Potato atau CIP dan NASA ini merupakan terobosan untuk membangun sebuah kubah yang bisa dikendalikan di Planet Mars untuk menanam bibit yang sulit tumbuh.

"Adakah cara yang lebih baik untuk belajar soal perubahan iklim dengan menanam tumbuhan di sebuah planet yang telah mati 2 miliar tahun yang lalu?" ujar Joel Ranck dari CIP.

"Kami ingin agar orang-orang paham bahwa jika kita dapat menumbuhkan kentang dalam kondisi ekstrem seperti di Mars, maka kita bisa menyelamatkan kehidupan di Bumi," tambahnya.

Tujuan dari eksperimen ini adalah meningkatkan kesadaran soal ketahanan kentang, selain untuk mendanai penelitian lebih lanjut dan berbudidaya di kawasan dunia yang sulit serta menghadapi kekurangan gizi dan kemiskinan.

Pemimpin proyek, Will Rust, dari Memac Ogilvy Dubai, mengatakan, eksperimen ini nantinya bisa menjadi jawaban untuk masalah kelaparan global.

Dengan menggunakan tanah dari Gurun Pampas de La Joya, yang hampir identik dengan yang ditemukan di Mars, tim selanjutnya akan meniru kondisi atmosfer Mars di laboratorium.

Tingkat karbon dioksida yang tinggi akan menguntungkan tanaman kentang, dengan hasil produksi yang bisa meningkat dua hingga empat kali lipat jika dibandingkan dengan menanam di kondisi Bumi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa Saja Manfaat Bermain Puzzle untuk Anak?

Apa Saja Manfaat Bermain Puzzle untuk Anak?

Oh Begitu
Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Oh Begitu
Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Oh Begitu
4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

Oh Begitu
Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Oh Begitu
Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Oh Begitu
Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fenomena
Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Oh Begitu
Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Fenomena
6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

Fenomena
Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Fenomena
98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

Fenomena
[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

Oh Begitu
BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

Oh Begitu
WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.