Kompas.com - 02/12/2015, 17:01 WIB
Perubahan iklim. World WildlifePerubahan iklim.
EditorYunanto Wiji Utomo
KOMPAS.com - Sebelas negara maju berkomitmen mengucurkan 248 juta dollar AS untuk kelompok negara rentan dampak perubahan iklim. Langkah adaptasi diharapkan lebih kuat pada masa mendatang.

Bantuan itu akan masuk Pendanaan Negara-negara Tertinggal (Least Developed Countries/ LDC) dan dikelola Global Environment Facility (GEF). Penyerahan simbolis dilakukan Senin (30/11) di Paris, Perancis, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Brigitta Isworo Laksmi.

Kelompok negara LDC beranggotakan 47 negara miskin dan berkembang, sebagian adalah negara kecil kepulauan, seperti Kiribati, Maladewa, dan Vanuatu, termasuk Filipina yang rutin dihantam badai tropis mematikan.

Direktur Eksekutif GEF Naoko Ishii, seperti dikutip bagian komunikasi COP-21 Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC), mengatakan, "Dengan dana ini kita bisa menghadapi perkembangan perubahan iklim ke depan. Peningkatan investasi untuk adaptasi harus ada pada inti kesepakatan iklim nantinya."

Pendanaan untuk negara tertinggal itu menjadi sinyal bahwa kesepakatan baru menuju arah yang benar. Selama ini, muncul kritik dari negara kecil yang rentan dampak perubahan iklim karena pendanaan dan aksi adaptasi jauh tertinggal dari upaya mitigasi.

Negara-negara tersebut rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti kekeringan, badai besar mematikan, kenaikan muka air laut, dan berbagai perubahan terkait iklim. Perubahan iklim telah berdampak besar pada negara dan komunitas paling miskin dan rentan.

Ke-11 negara pemberi dana itu adalah Kanada, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Irlandia, Italia, Swedia, Swiss, Inggris, dan Amerika Serikat.

Kepada BBC, Presiden Kiribati Anote Tong menyatakan, tanpa kenaikan suhu Bumi, negara kecil kepulauan, seperti Kiribati, sudah menuju tenggelam. "Kami telah menyiapkan warga kami bermigrasi," katanya. Kiribati berada di tengah Samudra Pasifik dengan gugusan pulau kecil yang dihuni bangsa Mikronesia.

Pada konferensi sebelumnya, Maladewa mengumumkan bahwa mereka bermaksud menyewa daratan di wilayah Selandia Baru apabila kenaikan muka laut tak tertahankan.

Janji untuk Indonesia

Dari Paris, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menyatakan, Norwegia, Jerman, dan Inggris berjanji mengucurkan 5 miliar dollar AS untuk program Reduksi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Lahan (REDD+) hingga tahun 2020.

"Kami menyambut baik. Itu sekaligus dalam rangka kesiapan negara-negara agar kesepakatan 2015 ini bisa diterapkan," kata Siti. Norwegia dan Inggris telah mendukung proyek REDD+ di Kalimantan dan Sumatera.

Dunia menyoroti Indonesia karena sebagai negara dengan hutan tropis luas, sebenarnya memiliki potensi menjaga keseimbangan iklim. Namun, deforestasi serta kebakaran hutan dan lahan terus terjadi dan mengemisikan karbon dioksida, salah satu unsur pembentuk gas rumah kaca pemicu pemanasan global. Secara resmi Presiden Joko Widodo menegaskan komitmen Indonesia menurunkan emisi 29 persen tahun 2030. (GSA/SON/BBC)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.