Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 21/10/2015, 18:56 WIB
EditorYunanto Wiji Utomo
KOMPAS.com - Akibat kabut asap yang ditimbulkan dari kebakaran hutan dan lahan di ratusan kawasan, Indonesia mengeluarkan emisi karbon lebih banyak ketimbang Amerika Serikat. Padahal, AS selama ini menyandang predikat sebagai sumber gas rumah kaca terbesar kedua di dunia setelah Cina.

Dalam laporan kajian organisasi lingkungan hidup, World Resources Insitute, emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah melampaui rata-rata emisi karbon harian AS selama 26 hari dari 44 hari sejak awal September.

Catatan tersebut praktis menunjukkan lonjakan signifikan. Pasalnya, selama ini AS merupakan sumber gas rumah kaca kedua setelah Cina. Adapun Indonesia biasanya dikategorikan WRI pada peringkat lima.

“Pembakaran lahan gambut tropis begitu signifikan untuk emisi gas rumah kaca karena area-area ini menyimpan jumlah karbon terbanyak di dunia yang berakumulasi selama ribuan tahun,” sebut WRI, yang menggunakan basis data emisi kebakaran global untuk laporannya, seperti dikutip kantor berita AFP.

Secara khusus, WRI menyebut alih fungsi lahan gambut menjadi perkebunan sebagai penyebab emisi gas rumah kaca.

“Pengeringan dan pembakaran lahan-lahan ini untuk ekspansi pertanian, seperti alih fungsi perkebunan kelapa sawit atau kayu untuk kertas, berujung pada peningkatan besar dalam emisi gas rumah kaca.”

Laporan WRI mengemuka setelah beberapa peneliti menilai kebakaran lahan dan hutan yang melanda Indonesia tahun ini ialah yang terparah sejak 1997 lalu.

Herry Purnomo, peneliti lembaga Center for International Forestry Research (CIFOR), misalnya, berpendapatan kondisi itu disebabkan ketahanan ekosistem Indonesia lebih rentan karena hutan tanaman industri dan sawit.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Proyek Manhattan, Oppenheimer, dan Bom Atom (Bagian 1)

Proyek Manhattan, Oppenheimer, dan Bom Atom (Bagian 1)

Oh Begitu
Apakah Ada Bintang Gelap di Alam Semesta?

Apakah Ada Bintang Gelap di Alam Semesta?

Fenomena
Mengapa Uranium Sangat Penting untuk Bahan Bakar Nuklir?

Mengapa Uranium Sangat Penting untuk Bahan Bakar Nuklir?

Oh Begitu
Apa Manfaat Minum Air Putih Sebelum Tidur?

Apa Manfaat Minum Air Putih Sebelum Tidur?

Oh Begitu
Apa Itu Meteorit?

Apa Itu Meteorit?

Oh Begitu
Apakah Kol Ungu Lebih Sehat Dibandingkan Kol Hijau?

Apakah Kol Ungu Lebih Sehat Dibandingkan Kol Hijau?

Oh Begitu
5 Kebiasaan Buruk di Pagi Hari yang Mengganggu Kesehatan

5 Kebiasaan Buruk di Pagi Hari yang Mengganggu Kesehatan

Kita
Fakta-fakta Menarik Kucing Purba Bertaring Pedang

Fakta-fakta Menarik Kucing Purba Bertaring Pedang

Fenomena
Benarkah Ada Dinosaurus yang Belum Punah?

Benarkah Ada Dinosaurus yang Belum Punah?

Oh Begitu
Mengapa Hiroshima dan Nagasaki Bisa Dihuni, sedangkan Chernobyl Tidak Bisa?

Mengapa Hiroshima dan Nagasaki Bisa Dihuni, sedangkan Chernobyl Tidak Bisa?

Oh Begitu
Benarkah Air Samudra Pasifik dan Atlantik Tidak Bisa Menyatu?

Benarkah Air Samudra Pasifik dan Atlantik Tidak Bisa Menyatu?

Oh Begitu
Kenapa Banyak Orang yang Suka Mencium Aroma Bayi?

Kenapa Banyak Orang yang Suka Mencium Aroma Bayi?

Oh Begitu
5 Manfaat Minum Air Putih di Pagi Hari

5 Manfaat Minum Air Putih di Pagi Hari

Oh Begitu
Apa Itu Ledakan Kambrium?

Apa Itu Ledakan Kambrium?

Fenomena
Mengapa Beberapa Orang Berkeringat Lebih Banyak dari yang Lain?

Mengapa Beberapa Orang Berkeringat Lebih Banyak dari yang Lain?

Kita
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com