Tikus Hidung Babi Ditemukan di Hutan Perawan Sulawesi

Kompas.com - 06/10/2015, 07:50 WIB
Tikus hidung babi (Hyorhinomys stuempkei) Museum Victoria/LIPITikus hidung babi (Hyorhinomys stuempkei)
EditorYunanto Wiji Utomo
KOMPAS.com — Tim ilmuwan dari Museum Zoologi Bogor, Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lousiana State University, dan Museum Victoria mengungkap genus baru tikus, yang disebut tikus hidung babi.

Genus baru itu ditemukan di hutan perawan wilayah Tolitoli, Sulawesi, yang jarang dijamah. Hanya satu dua pencari rotan yang mencapai wilayah itu.

Temuan ini memberi pengetahuan tentang penyebaran tikus celurut yang ternyata bisa mencapai wilayah lebih ke utara dan lebih tinggi dari yang diduga. Riset dipublikasikan di Journal of Mammalogy edisi Oktober 2015.

Anang Setiawan Achmadi, Jake Esselstyn, Kevin Rowe, dan Heru Handika sedang melakukan ekspedisi penelitian ke hutan wilayah Gunung Dako ketika menjumpai genus tikus itu pada tahun 2012.

Tim memasang perangkap jepit dan umpan di suatu dataran di hutan berketinggian lebih dari 1.500 meter. Perangkap jepit adalah perangkat umum yang biasa dipakai untuk mengoleksi hewan pengerat liar.

"Yang pertama menemukan tikus ini Kevin. Dia berteriak. Kami yang masih di kamp dan mendengar langsung curiga ada sesuatu yang mengejutkan," kata Anang.

Begitu Kevin membawa spesimen ke kamp, seluruh tim kegirangan. Mereka langsung melakukan analisis singkat dan meyakini bahwa tikus yang dijebak adalah jenis baru.

Saat melakukan analisis di laboratorium, tim mengungkap bahwa spesimen tikus yang ditangkap sangat khas dan berbeda dengan lainnya sehingga bahkan layak disebut genus baru.

Museum Victoria/LIPI Tikus Hidung Babi (Hyorhinomys stuempkei)
Secara ilmiah, tikus baru ini dinamai Hyorhinomys stuempkei. Nama genus "Hyorhinomys" diambil dari kata "hyro" yang berarti "babi", "rhino" yang berarti "hidung", dan "mys" yang berarti "tikus".

Sementara itu, nama spesies "Stuempkei" diambil dari nama samaran Gerolf Steiner, Harald Stuempke. Dia adalah penulis buku fiksi The Snouter yang bercerita tentang adanya tikus yang terpapar radiasi sehingga hidungnya menjadi panjang.

Kepada Kompas.com, Senin (5/10/2015), Anang mengatakan, "Ciri yang sangat menonjol dari tikus ini adalah hidungnya yang seperti hidung babi." Hewan itu dikatakan seperti hidung babi karena bentuknya yang besar, rata, dan berwarna merah muda.

Ciri lainnya adalah adanya rambut yang sangat panjang di bagian dekat saluran kencing. "Kami belum pernah menemukan tikus celurut memiliki rambut urogenital yang sepanjang ini, mencapai 5 sentimeter. Kami belum tahu fungsinya apa."

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X