Tubuh Pesawat N-219 Disiapkan

Kompas.com - 23/09/2015, 17:30 WIB
Pesawat N-219 buatan PT Dirgantara Indonesia. TribunnewsPesawat N-219 buatan PT Dirgantara Indonesia.
EditorYunanto Wiji Utomo
KOMPAS.com - Prototipe pesawat terbang N-219 buatan PT Dirgantara Indonesia akan diluncurkan pada Oktober 2015. Pesawat bermesin dua tipe baling-baling itu telah dilengkapi dengan sistem mekanis untuk penggerak dan kemudi.

Tahap selanjutnya adalah pemasangan sistem kelistrikan, elektronika, dan interior serta serangkaian pengujian. Penerbangan perdana prototipe pesawat produksi nasional itu direncanakan pada April 2017.

Kemajuan pembuatan prototipe pesawat kedua setelah N-250 oleh industri pesawat terbang nasional itu dikemukakan Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Andi Alisjahbana.

Sejauh ini kenaikan kurs dollar AS terhadap rupiah sedikit berpengaruh pada fabrikasi prototipe N-219. "Pembuatan N-219 jalan terus," kata Andi, saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (22/9/2015). Alokasi dana tahun 2014 Rp 400 miliar masih memadai hingga pesawat lepas landas tahun 2017.

Hal itu karena pesawat tersebut dirancang untuk memakai komponen lokal sebanyak mungkin. "Beberapa komponen yang mahal dan harus diimpor, seperti mesin dan avionik, dibayar tahun lalu dan sudah tiba," ujarnya.

Setelah terbang perdana untuk uji terbang, prototipe kedua untuk pengembangan pesawat akan dibuat. Pengujian dilakukan untuk memenuhi standar keamanan yang ditetapkan Kementerian Perhubungan. Alokasi anggaran dua prototipe N-219 melalui Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Pembuatan pesawat komuter N-219 itu dilakukan PTDI setelah penandatanganan nota kesepahaman dengan Lapan pada September 2014. Desain dan rancang bangun pesawat berkapasitas 19 penumpang itu dilakukan bersama perekayasa dari Lapan.

Keunggulan desain

Pesawat itu 100 persen desain baru karya anak bangsa. Kelebihannya dibandingkan pesawat Twin Otter yang digunakan sebagai pesawat perintis adalah ukurannya sedikit lebih besar tetapi bisa membawa barang 500 kilogram lebih banyak.

Pesawat itu bisa lepas landas pada landas pacu sepanjang 500 meter. Pesawat komuter butuh landasan 1.000 meter. "Bisa mengudara karena desain sayap mengikuti teknologi aerodinamika era 2000-an," kata Andi.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X