Sembuh dari Gangguan Cemas Tanpa ke Psikiater, Mungkinkah?

Kompas.com - 22/09/2015, 11:19 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna
Judul tulisan di atas pasti bisa dijawab oleh sebagian besar orang yang mempunyai masalah gangguan kecemasan tapi belum berkesempatan untuk datang ke psikiater. Gangguan cemas memang bisa sembuh tanpa harus ke psikiater, tentunya derajat keparahan gangguan cemasnya masih ringan sampai dengan sedang.

Saat saya sedang mengikuti pelatihan pengobatan gangguan kejiwaan yang diselenggarakan oleh Institute of Brain Medicine di Philipina tahun 2012, Prof Brian E.Leonard sebagai salah satu pembicara mengatakan gejala gangguan kecemasan pada pasien muncul jika kondisi adaptasi otak terhadap stres tersebut sudah tidak dapat diandalkan lagi.

Lebih jauh beliau mengatakan bahwa terjadinya ketidakseimbangan sistem di otak orang yang mengalami gangguan kecemasan sudah jauh terjadi sebelum gejala kecemasan itu muncul. Saat mulai terjadi ketidakseimbangan yang berat baru gejala itu muncul, bukan di awal mulanya kejadian itu ada.

Hal itu tentunya menjadi pemikiran kepada kita bahwa kondisi gangguan cemas tentunya bisa dicegah terjadinya jika kita memahami apa yang menjadi sumber stresor pemicu gangguan kecemasan.

Pada prakteknya pasien yang mengalami gejala serangan panik pertama kali bahkan mengatakan bahwa gejala tersebut datang jauh sesudah sesuatu yang dianggap stresor berlalu. Artinya banyak kondisi ketika stresor atau pencetus stres itu ada, kondisi tubuh malah tidak menampakan gejala kecemasan. Itu menunjukan sistem otak yang sedang beradaptasi terhadap pemicu stres.

Kenali pemicu stres

Dalam beberapa kali kesempatan bertemu dengan pasien yang sudah menjalani pengobatan dan sudah hilang hampir 90 persen gejalanya, saya selalu menekankan perlunya mulai mengenali pemicu stres yang mungkin tidak disadari oleh pasien.

Hidup di jaman sekarang rasanya tidak mungkin tanpa stres, tetapi tidak semua orang stres lalu langsung datang ke psikiater bukan? Artinya sebagian dari stres tersebut biasanya diadaptasi oleh pasien sendiri dengan mekanisme adaptasi yang biasanya pasien lakukan.

Ada yang kabur dari masalah ada juga yang menghadapi masalah secara terbuka. Ada yang cepat belajar dan beradaptasi dengan masalah yang dihadapi, ada juga yang perlu waktu lama untuk sekedar mengenali cara belajar menghadapi masalah yang baik.

Jangan lupa kenali pemicu stres yang biasanya kadang sebenarnya mungkin taraf stresnya kecil namun ketika dia sering datang maka kondisi itu bisa mengganggu keseimbangan daya tahan stres kita. Ketika daya tahan stres kita makin berkurang dan kita sudah mulai kehilangan kemampuan belajar menghadapi stres tersebut, maka gejala-gejala stres biasanya mulai datang. Akumulasi gejala ini yang bisa menimbulkan banyak masalah salah satunya gangguan kecemasan yang bisa timbul.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X