Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Akumulasi Karbon Selama 2.900 Tahun Lenyap akibat Konversi Gambut dan Kebakaran

Kompas.com - 14/09/2015, 20:54 WIB
EditorYunanto Wiji Utomo
KOMPAS.com - Akumulasi karbon di lahan gambut selama hampir 3.000 tahun hilang akibat konversi menjadi area perkebunan kelapa sawit dan kebakaran. Karbon yang tersisa akan berpotensi terus menguap apabila gambut tak dilindungi dan kebakaran terus terjadi.

Peneliti dari Center for International Forestry Research (CIFOR), Sofyan Kurnianto, dan rekannya melakukan pemodelan akumulasi karbon di gambut tropis dengan memperhitungkan jenis vegetasi, kecepatan penguraian tanah, kedalaman air, dan wilayah tempat gambut berada.

Gambut tropis meliputi wilayah seluas 440.000 kilometer persegi. Di Asia Tenggara, sebanyak 60 persen gambut tropis terdapat di Indonesia, seluas sekitar 210.000 kilometer persegi. Sementara, 26.000 kilometer persegi lainnya terdapat di Malaysia.

Studi mengungkap bahwa betapa lambat akumulasi karbon di lahan gambut. Gambut daratan terbentuk sejak 11.000 tahun yang lalu sedangkan gambut di pesisir pada 5.000 tahun lalu. Akumulasi karbon berlangsung dengan kecepatan 0,3 dan 0,59 Mg per hektar per tahun.

Yang ironis, karbon yang terakumulasi sangat perlahan selama puluhan ribu tahun itu hilang dalam waktu sekejap.

Karbon yang terakumulasi selama 11.000 dan 5.000 tahun masing-masing sebesar 3.300 dan 2.900 Mg per hektar. Jumlah karbon yang dari gambut yang hilang dalam 100 tahun terakhir sudah 1.400 Mg per hektar, setara dengan akumulasi selama 2.900 tahun.

Sofyan mengatakan bahwa makna dari hasil studi yang dipublikasikan di jurnal Global Change Biology itu adalah "Proses yang sangat panjang dari pembentukan gambut yang memakan ribuan waktu akan hilang dengan waktu yang relatif pendek jika ada konversi gambut."

Lebih banyak karbon akan terlepas apabila kebakaran hutan seperti ayng berlangsung akhir-akhir ini terjadi. Prediksi mengungkap, jumlah lahan gambut yang terbakar di Jambi sebesar 33.000 hektar sementara di Riau sebesar 3.500 hektar. Sejumlah lahan gambut di Kalimantan Tengah dan Barat juga terbakar.

Kepada Kompas.com, Senin (14/9/2015), Sofyan mengatakan, "Berdasarkan hasil pemodelan, dengan asumsi gambut yang terbakar setebal 20 cm, maka kebakaran gambut akan mengakibatkan emisi sebesar 125 ton C per hektar." Sejumlah gambut di Indonesia memiliki kedalaman lebih dari 50 centimeter.

Jika benar yang diprediksi bahwa sekitar 33.000 hektar lahan gambut telah terbakar baru-baru ini, maka karbon yang terlepas sudah sekitar 4.125.000 Mg C. Emisi bisa berlipat-lipat bila dikalikan dengan lahan gambut yang terbakar di daerah lain dan jika kedalaman gambut lebih dari 20 centimeter.

Hilangnya lahan gambut tidak hanya akan berdampak pada masyarakat sekitar. "Dengan konversi gambut maka akan melepaskan Gas rumah kaca terutama CO2 ke atmosfer. Ini tentunya akan mengakibatkan pemanasan global sebagai trigger dari perubahan iklim."

"Akibat pemanasan global yang lain adalag melelehnya es di kutub yang mengakibatkan naiknya permukaan air laut. Hal ini sangat mengkhawatirkan bagi wilayah-wilayah yang dekat dengan pantai seperti Jakarta yang bahkan pada beberapa ketinggian wilayahnya berada di bawah permukaan air laut."


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Proyek Manhattan, Oppenheimer, dan Bom Atom (Bagian 1)

Proyek Manhattan, Oppenheimer, dan Bom Atom (Bagian 1)

Oh Begitu
Apakah Ada Bintang Gelap di Alam Semesta?

Apakah Ada Bintang Gelap di Alam Semesta?

Fenomena
Mengapa Uranium Sangat Penting untuk Bahan Bakar Nuklir?

Mengapa Uranium Sangat Penting untuk Bahan Bakar Nuklir?

Oh Begitu
Apa Manfaat Minum Air Putih Sebelum Tidur?

Apa Manfaat Minum Air Putih Sebelum Tidur?

Oh Begitu
Apa Itu Meteorit?

Apa Itu Meteorit?

Oh Begitu
Apakah Kol Ungu Lebih Sehat Dibandingkan Kol Hijau?

Apakah Kol Ungu Lebih Sehat Dibandingkan Kol Hijau?

Oh Begitu
5 Kebiasaan Buruk di Pagi Hari yang Mengganggu Kesehatan

5 Kebiasaan Buruk di Pagi Hari yang Mengganggu Kesehatan

Kita
Fakta-fakta Menarik Kucing Purba Bertaring Pedang

Fakta-fakta Menarik Kucing Purba Bertaring Pedang

Fenomena
Benarkah Ada Dinosaurus yang Belum Punah?

Benarkah Ada Dinosaurus yang Belum Punah?

Oh Begitu
Mengapa Hiroshima dan Nagasaki Bisa Dihuni, sedangkan Chernobyl Tidak Bisa?

Mengapa Hiroshima dan Nagasaki Bisa Dihuni, sedangkan Chernobyl Tidak Bisa?

Oh Begitu
Benarkah Air Samudra Pasifik dan Atlantik Tidak Bisa Menyatu?

Benarkah Air Samudra Pasifik dan Atlantik Tidak Bisa Menyatu?

Oh Begitu
Kenapa Banyak Orang yang Suka Mencium Aroma Bayi?

Kenapa Banyak Orang yang Suka Mencium Aroma Bayi?

Oh Begitu
5 Manfaat Minum Air Putih di Pagi Hari

5 Manfaat Minum Air Putih di Pagi Hari

Oh Begitu
Apa Itu Ledakan Kambrium?

Apa Itu Ledakan Kambrium?

Fenomena
Mengapa Beberapa Orang Berkeringat Lebih Banyak dari yang Lain?

Mengapa Beberapa Orang Berkeringat Lebih Banyak dari yang Lain?

Kita
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com