Kompas.com - 27/08/2015, 20:05 WIB
Kapal-kapal pengeruk Tiongkok terlihat di sekitar karang di Kepulauan Spratly yang disengketakan di Laut China Selatan, dalam foto yang diambil oleh pesawat pengintai AS, Mei 2015. REUTERSKapal-kapal pengeruk Tiongkok terlihat di sekitar karang di Kepulauan Spratly yang disengketakan di Laut China Selatan, dalam foto yang diambil oleh pesawat pengintai AS, Mei 2015.
EditorYunanto Wiji Utomo
KOMPAS.com - Para ahli Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) mengatakan permukaan laut di seluruh dunia terus naik, dan data satelit terbaru mengatakan kenaikan setinggi satu meter akan terjadi selama 100 sampai 200 tahun mendatang.

Lapisan es di Greenland dan di Kutub Selatan meleleh lebih cepat dibandingkan di masa lalu, dan suhu laut semakin hangat, dan penyebarannya lebih luas dibandingkan sebelumnya.

Menurut Direktur Divisi Ilmu Bumi NASA, Michael Freilich kenaikan permukaan laut ini akan memberikan 'dampak besar' di seluruh dunia.

"Lebih dari 150 juta orang, kebanyakan di  Asia, tinggal di wilayah satu meter di atas permukaan laut saat ini." katanya.

Negara bagian di Amerika Serikat seperti Florida yang berada di permukaan yang rendah terancam hilang, demikian juga dengan kota-kota besar serupa seperti Singapura dan Tokyo.

"Ini bahkan akan menenggelamkan beberapa bangsa di kepulauan Pasifik."

Dalam konferensi pers membicarakan data terbaru mengenai naiknya permukaan laut tersebut, para ahli mengatakan bahwa di masa depan, permukaan pantai di seluruh dunia akan sangat jauh berbeda dari sekarang.

"Sekarang ini kenaikannya kemungkinan adalah satu meter, berdasarkan data pemanasan bumi yang ada." kata Steve Nerem dari University of Colorado yang merupakan kepala riset NASA mengenai permukaan laut.

"Ini akan semakin memburuk di masa depan. Hal yang paling tidak bisa diprediksi adalah seberapa cepat pelelehan lapisan es di kutub akan terjadi."

Permukaan laut sudah naik rata-rata 7,6 cm sejak tauhn 1992, dengan beberapa lokasi naik lebih dari 23 cm karena variasi alam.

Kebanyakan air tambahan ini berasal dari melelehnya es. Para ahli utamanya khawatir dengan lapisan es Greenland, dimana pelelehan mencapai rata-rata 303 gigaton setahun selama sepuluh tahun terakhir.

Juga di Kutub Selatan, lapisan es meleleh dengan rata-rata 118 gigaton setiap tahunnya.

"Salah satu yang kami pelajari adalah bahwa lapisan es ini meleleh lebih cepat dari yang kami perkirakan sebelumnya," kata Josh Willis dari NASA.

"Dalam masa 20 tahun ke depan, kita mungkin akan melihat naiknya permukaan laut lebih tinggi dari rata-rata sekarang, jadi kita harus bersiap diri."Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gunung Tonga Terus Dipantau Setelah Letusan Besar Sebabkan Tsunami

Gunung Tonga Terus Dipantau Setelah Letusan Besar Sebabkan Tsunami

Fenomena
Waspada Ada Peningkatan Curah Hujan di Jabodetabek 3 Hari ke Depan

Waspada Ada Peningkatan Curah Hujan di Jabodetabek 3 Hari ke Depan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

Oh Begitu
Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Pemukiman

Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Pemukiman

Oh Begitu
Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Fenomena
China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

Fenomena
Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Oh Begitu
Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Fenomena
Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Fenomena
Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Kita
Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Fenomena
Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Kita
Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Oh Begitu
Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Fenomena
Kenapa Jantung Kita Berdetak Lebih Cepat Saat Takut? Sains Jelaskan

Kenapa Jantung Kita Berdetak Lebih Cepat Saat Takut? Sains Jelaskan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.