Dokter Perlu Jadi Pendengar yang Baik

Kompas.com - 21/08/2015, 14:19 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna
Saat menuliskan artikel ini saya sedang berada di Glasgow, Skotlandia, dalam acara Kongres Dunia Psikosomatik yang ke-23. Saya berkesempatan hadir karena diundang oleh panitia untuk memberikan presentasi tentang bagaimana meningkatkan kepedulian tentang psikosomatik di kalangan awam dan juga praktisi kesehatan.

Rencananya hari ini 21/8/2015 jam 9 pagi waktu Glasgow (atau jam 3 sore waktu Indonesia Barat) saya akan maju mempresentasikan presentasi saya.

Kesempatan melakukan kongres di luar negeri juga saya selalu gunakan untuk belajar dari kolega lain. Selain untuk menambah ilmu juga untuk melihat perkembangan kolega di negara lain terkait dengan topik-topik khusus yang biasanya berkaitan dengan psikosomatik. Kemarin saya mengikuti pelatihan tentang Teknik Wawancara Motivasi pada Kasus Medis yang lama. Pembicara sendiri berasal dari Manchaster, UK.

Dalam pelatihan ini pelatih menekankan teknik wawancara motivasi yang singkat yang mungkin bisa dilakukan oleh dokter non-psikiater dalam prakteknya sehari-hari.

Dr Christine Bundy dan Dr Anna Chisholm dari University of Manchaster memberikan contoh tentang bagaimana sibuknya seorang dokter di rumah sakit dengan jumlah pasien yang sangat besar setiap harinya.

Jika melakukan konseling standar yang memakan waktu lebih dari 30 menit agak sulit untuk melakukan ini dalam keseharian tentunya. Pelatihan ini bertujuan untuk mencapai suatu kemampuan untuk menjadi dokter yang baik dalam diagnosis tetapi juga tidak melupakan sisi psikologis dalam setiap masalah medis yang dialami pasien.

Tujuan dari teknik wawancara motivasi ini adalah membangun percakapan yang bersifat kolaboratif yang akan meningkatkan dan menunjukkan kemampuan seseorang untuk melakukan perubahan gaya hidup dan perilakunya. Hal ini juga terkait dengan kemampuan orang tersebut untuk mengatur dirinya sendiri.

Penelitian telah membuktikan bahwa hal ini mempunyai dasar yang kuat secara ilmiah dan sangat disarankan untuk perubahan perilaku. Pasien dan dokter juga mendapatkan manfaat dari teknik wawancara seperti ini dan bisa dilakukan dengan singkat lebih kurang dari 10 menit.

Beberapa dari kita para dokter tentunya telah melakukan hal ini tanpa sadar. Ilmu Kedokteran Jiwa mengajarkan tentang bagaimana menjalin komunikasi yang empatik dan bagaimana menjadi pendengar yang baik dan aktif. Pelatihan ini mengedepankan bahwa sumber perubahan perilaku adalah dari pasien bukan dari dokternya.

Pada prosesnya dokter berupaya dalam wawancara yang singkat ini untuk berusaha mengenali harapan-harapan pasien dan mampu mendorong hal-hal baik yang sudah dilakukan pasien terkait dengan sakitnya. Dokter juga mempunyai peran untuk mengenali kemampuan pasien untuk berubah dan mendorongnya untuk muncul jika belum tampak dalam diri pasien.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Fenomena
Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kita
BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

Kita
BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Fenomena
Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Oh Begitu
Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Oh Begitu
Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Fenomena
BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Oh Begitu
Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Fenomena
Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Fenomena
Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Oh Begitu
Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Oh Begitu
Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X