Kompas.com - 15/07/2015, 20:34 WIB
Wajah Pluto hasil jepretan New Horizon pada Selasa (14/7/2015) beberapa waktu sebelum melintas dekat. NASAWajah Pluto hasil jepretan New Horizon pada Selasa (14/7/2015) beberapa waktu sebelum melintas dekat.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Seiring keberhasilan misi New Horizon menjamah Pluto, debat tentang status Pluto kembali mengemuka. Sejumlah kalangan menginginkan status Pluto sebagai planet yang dilepaskan pada tahun 2006 dikembalikan.

Stuart Clark, seorang penulis astronomi, dalam tulisannya di The Guardian, Rabu (15/7/2015), mengungkapkan langsung lewat judul "Tentu Pluto cukup berhak menjadi planet. Ukuran Bukan Segalanya."

Clark mengatakan bahwa Pluto memang dunia kecil, diameternya hanya 2.370 kilometer dan volumenya hanya 1 persen Bumi. "Namun, soal ukuran itu tak seharusnya dijadikan alasan untuk menendang Pluto," katanya.

Menurut Clark, menolak status Pluto sebagai planet merupakan penyangkalan terhadap sejarah. Tahun 1930, Clyde Tombaugh dari Lowell Observatory di Arizona menemukan Pluto sebagai planet. Sejarah itu, menurut Clark, tak seharusnya ditulis ulang.

Keberhasilan New Horizon harus dimanfaatkan untuk melihat ulang status Pluto. "Ini waktunya untuk mengkaji ulang aturan penetapan planet, mengembalikan status Pluto, dan menerima bahwa kita hidup di tata surya yang lebih besar dan bervariasi," jelasnya.

Diragukan sejak awal

Status Pluto sebagai planet sebenarnya sudah diragukan sejak awal, sejak masih disebut "Planet X". Sebulan setelah publikasi penemuannya di jurnal Science pada 21 Maret 1930, artikel di jurnal yang sama meragukan temuan itu.

Pluto kala itu dikatakan berukuran jauh lebih kecil dari dugaan. Sementara bidang orbitnya juga jauh lebih miring dan lebih lebar dibandingkan planet pada umumnya. Sempat diduga bahwa pluto adalah asteroid yang unik.

Kontroversi terus berlanjut, tetapi para ilmuwan yang mendukung keberadaan planet ini "tak peduli". Bulan Juni 1930, planet X dinamai sebagai Pluto berdasarkan usulan putri salah satu profesor dari Oxford University.

Selama 7 dekade setelah penemuan, Pluto tetap menyandang status planet walaupun masih kontroversi. Baru tahun 2006, status planet Pluto dicabut oleh International Astronomical Union (IAU), badan yang bertanggung jawab pada penamaan dan klasifikasi benda langit.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Oh Begitu
Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Fenomena
Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Fenomena
Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Fenomena
Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Oh Begitu
63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

Fenomena
Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Oh Begitu
Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Oh Begitu
Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Oh Begitu
Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Oh Begitu
Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Kita
Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Oh Begitu
Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Oh Begitu
Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kita
Hobi Mumikan Kucing, Apa Alasan Orang Mesir Kuno Lakukan Itu?

Hobi Mumikan Kucing, Apa Alasan Orang Mesir Kuno Lakukan Itu?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X